“Saya kira bukan ruang guru, saya kira kantin atau resto resto,” ujar Aci sambil tersenyum, disambut tawa hangat para guru.
Ruang guru itu tampil dengan dominasi warna putih—sederhana, bersih, dan lapang. Dalam sambutannya, Aci Sulaeman berharap kehadiran ruang ini dapat menjadi tempat tumbuhnya kreativitas para pendidik.
“Ruangan yang bernuansa putih ini menandakan ketulusan para guru dalam mengabdi. Untuk itu, saya berharap agar dijaga,” ujarnya.
Lebih dari sekadar bangunan, ruang guru ini menjadi simbol penghargaan terhadap peran pendidik—tempat beristirahat sejenak, berbagi cerita, menyusun strategi pembelajaran, dan menyalakan kembali semangat pengabdian.
Di hari itu, di sebuah sudut Sambung Jawa, ruang guru tak hanya diresmikan, tetapi juga dihidupkan—oleh senyum anak-anak, prestasi yang membanggakan, dan harapan akan pendidikan yang terus tumbuh dengan tulus.(Ardhy M Basir)

