Hj. Buaidah bint H. Achmad Orang Tua Tunggal nan Lahirkan Dua Profesor

Tanggal:

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Sekali waktu Ibu Hj. Buaidah binti H.Achmad ke kamar mandi. Itu beberapa tahun silam. Di rumah, Jl. Sultan Alauddin 2 Lorong 5, No. 3, Kel. Mangasa Makassar, hanya dia sendiri. Ketika anak-anaknya pulang, semua kaget. Sang Ibunda tidak ada di tempat dia biasa duduk dan tidur. Sekeliling kamar pun disasar. Tiba di kamar mandi, ada yang mencari curiga. Mengapa lampu di dalam kamar mandi tetap menyala. Pintunya pun terkunci.Diketuk, tidak ada jawaban.
Nalar anak-anaknya menyimpulkan, pasti ada orang di dalam kamar mandi. Dan, dalam keadaan tidak mungkin membuka pintu kamar mandi.

“Jalan pintas pun dipilih. Salah satu bagian dinding kamar mandi dijebol. Astaga, Hj Buaidah tergeletak di lantai. Terkena stroke. Tidak ada pilihan lain. Mami diterbangkan ke Jakarta. Sembilan kursi di pesawat terpaksa di-”booking” karena Mami tidak bisa menggunakan kursi roda. Harus berbaring,” cerita Prof.Dr.Ahmad Thib Raya, M.A. suami putri Hj Buaidah, Prof.Dr. Hj.Musdah Mulia, M.A. pada malam pertama takziah, 4 Januari 2026 malam.

Setelah dirawat di Jakarta, Mami bisa pulang ke Makassar tanpa kursi roda. Mami bisa berjalan sendiri. Namun beberapa tahun terakhir, seiring dengan usianya yang kian lanjut, Mami lebih banyak di tempat tidur hingga akhir hayatnya.

Pada saat kepergiannya, secara kebetulan Prof. Dr. Musdah Mulia, M.A. dan Prof. Dr.Ahmad Thib Raya, M.A. sedang berada di Makassar untuk menghadiri pernikahan ponakannya yang dilaksanakan Minggu (4/1/2026).

“Jadi pada hari itu, ada dua acara yang saling paradoks. Ada acara gembira ria dan ada kedukaan,” ujar Prof. Thib Raya sebelum menyilakan AGH Prof.Dr. Najamuddin Abd.Syafa, M.A. membawakan tausiah takziah.

Ketika Prof.Dr.Musdah memberi tahu dan saat tiba di kediaman Ibundanya, Prof.Thib langsung meminta cucu almarhumah yang dokter agar memeriksa jantungnya. Tidak ada lagi detaknya. Prof.Thib pun memegang kakinya. Sudah dingin.
“Inilah cara Allah memanggil orang-orang yang salehah. Tidak kelihatan susahnya dan indah kepergiannya,” ujar Thib yang kemudian diikuti ronde kedua suara tangis yang meledak dari anak-anak dan cucu. Hj Buaidah binti H.Achmad sudah pergi.
Namun ada satu peristiwa yang aneh sebelum kepergian Hj Buaidah. Sore hari, 3 Januari 2026 (sebelum malam berpulang), Prof.Musdah baring-baring di dekat Ibunya.Tidak lama kemudian tantenya muncul dan berkata. “Saya mau bawa Mami pergi. Tidak lama kemudian, Mami pun pergi. Ini luar biasa,” ungkap Thib.

Baca juga :  Ketua DPC Partai Hanura Bulukumba Optimis Mendudukkan Kader Terbaiknya di DPRD Sulsel

Hajjah Buaidah lahir 21 April 1939 di Sengkang, Kabupaten Wajo. Ayahnya H. Achmad, seorang saudagar kaya, memiliki sejumlah perahu pinisi. Ibunya bernama Hj. Fatimah binti H. Muhammad Nuhung. Dia anak keempat dari lima bersaudara. Semuanya sudah meninggal.

Hj. Buaidah seorang ibu yang membesarkan sendiri keenam putra-putrinya (single parent). Keenam anaknya secara berurut-turut, Musdah Mulia, Alim Suryono, Dia Raya, Gemilang, Gustiati dan Yuspiani. Dari enam anak almarhumah, yang sulung dan bungsu meraih jabatan akademik tertinggi, Profesor. Anak ketiga, Dia Raya, sempat meraih gelar akademik tertinggi, doktor, di MIPA Unhas, sebelum berpulang beberapa tahun silam.

Hj Buaidah merupakan perempuan pertama di desanya (Sajoanging, Wajo) yang berhasil melanjutkan pendidikan ke Pesantren Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) yang terletak di Mangkoso, Kaupaten Barru sekarang. Pada saat belum banyak, bahkan sangat langka perempuan melanjutkan pendidikan dengan harus meninggalkan desa kelahirannya. Jaraknya ketika itu ditempuh lebih dari dua hari perjalanan karena minimnya transportasi.

“Belum ada jalan yang langsung ke sana dari desanya, dan juga harus berganti-ganti kendaraan,” kenang putri sulung Almarhumah, Prof.Dr. Musdah Mulia, M.A. kepada media ini melalui komunikasi “whatsApp”, Senin (12/1/2026).

Kondisi pendidikan itu dimungkinkan terjadi karena nenek Musdah (Hj. Fatimah) bertekad menyekolahkan anak-anak perempuannya. Sebab, ia sendiri dulu dilarang bersekolah. Di masa itu anak perempuan tidak lazim keluar rumah. Apalagi harus meninggalkan desa untuk menuntut ilmu. Namun, neneknya tak peduli, meskipun harus dirundung habis-habisan oleh orang sekampung karena dianggap melanggar adat.

“Nenek melihat harus ada perubahan. Syukurlah ia bersikeras karena keputusannya itu pun kemudian memengaruhi hidup saya. Bagaimana sejak dini saya belajar bahwa perempuan berhak memperoleh pendidikan, setara dan merdeka,” imbuh Prof.Musdah.

Baca juga :  Hari Bhayangkara ke-76, Polres Pelabuhan Makassar Berbagi Kebahagiaan dengan Anak Yatim Piatu

Tamat dari pesantren tingkat Aliyah tahun 1955, Ibu Hj. Buaidah mulai mengamalkan ilmunya dengan berdakwah di beberapa masjid di desanya. Ketika itulah seorang Panglima Tentara DI/TII bernama H. Mustamin bin H. Abdul Fattah memperhatikannya. Setahun kemudian lalu melamarnya.

“Itulah ayah saya. Perubahan politik di awal Orde Baru menyebabkan ayah harus pindah ke Riau. Ibu memilih kembali ke Sulawesi Selatan membesarkan sendiri anak-anaknya. Rela menjadi orang tua tunggal demi anak-anaknya,” kenang Musdah Mulia.

Ibunda Hj Buaidah seorang pemberani, mandiri dan bertanggungjawab. Sikap inilah yang selalu ditanamkan kepada anak-anaknya. Sikap pemberani itu dia warisi dari ibunya, Hj. Fatimah yang juga single parent karena suaminya meninggal muda dan mewariskan harta yang banyak.
Meskipun seorang perempuan, dia mampu mengelola sawah dan harta peninggalan suaminya dengan baik. Selain itu, dia punya tradisi unik. Melakukan ‘traveling’ (perjalanan) seorang sendiri. Setiap tahun, pascapanen padi, dia memulai perjalanan silaturahim. Mengunjungi anak-anak dan saudara-saudaranya yang berjumlah 12 orang dan tersebar sampai ke Jawa dan Sumatera (Jambi dan Riau). “Sebetulnya, sikap pemberani itu diwariskan oleh kakek saya H. Muhammad Nuhung,” imbuh Musdah.

Dia dikenal sebagai ulama yang berintegritas, kuat memegang prinsip. Muammad Nuhung, sebagaimana kebiasaan orang Bugis-Makassar pembelajar, kesempatan menunaikan ibadah haji selalu digunakan menekuni pendidikan agama di Mekkah beberapa tahun lamanya. Makanya, dia sangat ahli dalam ilmu agama sehingga terpilih sebagai Qadhi Kerajaan Bone. Semacam ketua pengadilan di era sekarang.
Muhammad Nuhung berani melawan raja yang dinilai sudah melanggar adat dan tradisi agama. Dia memilih keluar dari wilayah kerajaan Bone dengan membawa pergi seluruh keluarganya jika tidak sependapat dengan raja yang dianggapnya sudah melenceng dari adat dan tradisi .
Beliau menumpang perahu pinisi, berlayar meninggalkan Teluk Bone dan terdampar di pantai Jalang, pesisir timur Kabupaten Wajo. Di sanalah dia membuka permukiman baru dan membina masyarakat setempat dengan mengajarkan tradisi agama.

Baca juga :  Lakukan Kegiatan Preemtif, Kamsel Satlantas Polres Pelabuhan Berikan Imbauan Sopir Truk dan Juru Parkir

“Salah satu nasihatnya -- saya dengar dari nenek saya =- adalah beliau menentang penggunaan gelar-gelar kebangsawanan, dan melarang keturunannya memakai gelar-gelar tersebut. Sebab baginya, kebangsawanan seseorang harus dibuktikan dalam bentuk perilaku yang santun, jujur, adil dan bijaksana. Penggunaan gelar bangsawan menunjukkan sifat jahiliyah yang ditentang Islam,” kenang Musdah. Akan halnya dengan Hj. Buaidah, ibunya, Musdah Mulia menyebutkan, dia sangat berwibawa.

“Kami semua anaknya tidak ada yang berani membantah perintahnya. Meskipun perempuan, ibu saya dikenal sangat tegas dan tidak takut pada siapa pun. Walaupun demikian, dia juga dikenal sangat penyayang dan penuh empati,” sebut Muslimah Reformis ini.

Ibunda Hj Buaidah selalu peduli pada pendidikan anak-anak di lingkungan keluarga besarnya/ Dia selalu membantu dan mendorong para keponakan dan anak-anak dari keluarga besar melanjutkan pendidikan agar mendapatkan kehidupan yang lebih layak. “Perhatiannya pada pendidikan sangat luar biasa. Sampai-sampai dalam usia yang sudah tidak muda lagi, beliau masih berusaha mengikuti kuliah di Fak. Ushuludin As’adiyah Sengkang,” pungkas Musdah Mulia. (mda).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Jelang Pemeriksaan BPK, Disdik Sulsel Kebut Rekonsiliasi Dana BOSP Sekolah

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR — Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Iqbal Nadjamuddin, menegaskan percepatan rekonsiliasi dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP)...

Ketua MUI Sulsel AG Prof.Dr.H.Najamuddin Abd.Syafa, M.A., “Mati Bagaikan Sebuah Pintu”

Ketua MUI Sulsel AGH Prof.Dr. Najamuddin Abd.Syafa (duduk, kiri) didampingi Prof.Dr.Ahmad Thib Raya, M.A. (Foto:mda). PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Ketua...

Portal Parkir Elektronik Diharapkan Dongkrak PAD Sinjai

PEDOMANRAKYAT, SiNJAI — Usai diresmikan oleh Bupati Sinjai, Dra. Hj. Ratnawati Arif, penggunaan portal parkir elektronik di kawasan...

Angin Kencang Terjang Makassar, Pohon Besar Tumbang di Jalan Karunrung

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR — Angin kencang yang melanda Kota Makassar pada Senin pagi (12/1/2026) sekitar pukul 05.30 Wita menyebabkan...