Said Welikin, Wartawan Sejati hingga Akhir Hayat

Mahyuddin
Mahyuddin 280 Pembaca
5 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMAN RAKYAT, GOWA.- Muhammad Said Welikin lahir dan besar di Kota Tual, Provinsi Maluku. Ia kemudian merantau ke Papua, sebelum akhirnya hijrah ke Makassar. Di kota ini, ia sempat bekerja serabutan, hingga sebuah pertemuan mengubah arah hidupnya: perkenalannya dengan Hasan Kuba.

Dari Hasan Kuba, pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi Tabloid LINTAS, Said Welikin menemukan panggilan hidupnya sebagai wartawan. Ia memutuskan menekuni dunia pers, meski saat itu nyaris tanpa bekal: tidak tahu membuat berita, tidak terbiasa menulis, bahkan belum lancar mengetik.

“Awalnya dia bahkan tidak tahu mengetik. Dia memulai mengetik dengan menggunakan dua jari—telunjuk kanan dan telunjuk kiri,” kenang Hasan Kuba.

Namun semangat dan ketekunan Said Welikin perlahan mengalahkan keterbatasan. Ia belajar tanpa lelah hingga akhirnya lancar mengetik, lancar menulis, dan mantap menggeluti dunia jurnalistik. Ia meninggalkan pekerjaan lamanya dan total menjadi wartawan Tabloid Lintas, bersama Hasan Kuba dan Hasdar Sikki. Belakangan, saya pun ikut bergabung di media tersebut.

Said Welikin dikenal menyukai liputan investigatif, serta gemar mengangkat kisah-kisah orang kecil, kaum pinggiran, dan mereka yang tertindas.

“Saya suka baca Majalah Tempo,” ujarnya suatu ketika—sebuah pengakuan yang mencerminkan seleranya pada jurnalisme yang tajam dan mendalam.

Ia juga pernah mengikuti lomba penulisan artikel berita dan keluar sebagai juara. Sebuah pencapaian luar biasa, mengingat ia memulai karier jurnalistik dari nol—bahkan dari ketidaktahuan cara mengetik.

Sebagai wartawan Tabloid Lintas, Said Welikin menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan sempat menjadi pengurus PWI Sulawesi Selatan. Ia juga pernah menjadi pengurus PWI Kabupaten Takalar saat organisasi tersebut dipimpin Maggarisi Saiyye.

Di luar dunia pers, ia aktif sebagai Sekretaris Forum Diskusi Pusat Kajian Indonesia Timur Pelangi Nusantara yang diketuai Arwan Tjahjadi. Forum ini beranggotakan berbagai tokoh lintas profesi—akademisi, birokrat, politisi, pengusaha, hingga wartawan—dengan tujuan mengawal, mengkritisi, sekaligus membantu pemerintahan Jokowi–JK, tanpa diformalkan sebagai organisasi resmi.

Baca juga :  Pj. Bupati Sinjai Bersama Forkopimda Minta ASN dan Honorer Jaga Netralitas

Forum tersebut dihadiri antara lain oleh Ishak Ngeljaratan, Arqam Azikin, Malik B. Masry, La Tunreng, Arwan Tjahjadi, Jamil Misbach, Asnawin Aminuddin, dan Muhammad Arsan F. Sejumlah tokoh besar Sulsel juga tercatat sebagai bagian dari forum ini, seperti Prof. Idrus A. Paturusi, Prof. Qasim Mathar, Prof. Basri Wello, dan HM Alwi Hamu.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!