Oleh : Ardhy M Basir
Kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mendorong Work From Anywhere (WFA) lewat aplikasi Smart Office sekilas tampak modern dan progresif. Namun jika ditelisik lebih dalam, kebijakan ini justru memperlihatkan wajah birokrasi yang setengah matang—terlihat canggih di permukaan, tetapi rapuh dalam perencanaan dan minim keberpihakan pada realitas masyarakat.
Penetapan libur tiga hari bagi ASN tanpa diiringi kebijakan serupa di sektor pendidikan adalah contoh nyata ketidaksinkronan. Apa logikanya orang tua “dibebaskan” bekerja dari rumah, sementara anak-anak tetap harus berangkat ke sekolah seperti biasa? Ini bukan efisiensi, melainkan kebijakan yang kehilangan arah.
Alih-alih mengurangi mobilitas dan konsumsi BBM, kebijakan ini justru berpotensi menjadi ironi. Orang tua tetap harus mengantar dan menjemput anak, bahkan dengan frekuensi yang tidak berubah. Di mana letak penghematannya? Jika tujuan utamanya adalah efisiensi energi dan pengurangan aktivitas luar rumah, maka kebijakan ini jelas meleset dari sasaran.

