AB Iwan Azis, Kunjungi Warkop Puluhan Tahun Tetapi Tidak Ngopi

Ramzy
Ramzy 346 Pembaca
10 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Kopi asal Jawa seketika memikat dunia, dan mengalahkan kopi Mocha asal Yaman yang sebelumnya menguasai pasar. Sejak saat itu, kopi asal Pulau Jawa dikenal dengan nama Java Coffee.

Mengenal Tiga Generasi Pemilik Warkop Phoenam

Sejak masih belia Iwan Azis sudah mengenal Warkop Phoenam. Saat warkop ini masih di Jalan Nusantara, lalu pindah ke Jalan Jampea, sekarang Jalan Ho Eng Djie, kemudian membuka cabang di Jalan Boulevard, Panakkukang Mas.

“Paling sering saya di Warkop Phoenam, Jalan Jampea, karena mobilitas masih tinggi, dan dekat dengan Balai Kota Makassar,” terang pria yang masih tetap perlente itu.

Menurutnya, Warkop Phoenam di Jalan Nusantara bisa terkenal karena, dahulu, di dekatnya ada Perusahaan Daerah (Perusda).

Karyawan Perusda yang mengelola sandang pangan ini, biasa menunggu dan nongkrong di situ, sambil memesan kopi, roti selai kaya, roti goreng telur, atau roti kornet.

Dahulu, hampir semua warkop berada di pojok atau tikungan. Dapur mereka selalu di depan. Namun, Phoenam tidak demikian. Mengapa? Sebab di samping kanannya juga berdiri warkop

“Saya beberapa waktu lalu ke Phoenam, dan memesan kopi susu. Pelayannya terlihat kaget. Sebab baru pertama kali saya pesan kopi. Lalu saya bilang, biar nanti kalau saya meninggal, kamu ingat saya,” kisah Iwan Azis bercanda.

Dia lalu menelepon Deddy, generasi ketiga pengelola Warkop Phoenam. Dia hendak mengkonfirmasi cerita tentang Phoenam agar saya tidak salah kutip.

Deddy lalu menjapri Iwan Azis, mengirimkannya sejarah “Para Pendiri Warung Kopi Phoenam”, kemudian diteruskan ke saya.

Dalam tulisan ringkas itu, disebutkan bahwa Warkop Phoenam pada awalnya didirikan oleh Liong Thay Hiong (kakek dari Deddy), didampingi dua kerabat dekatnya, dan seorang paman bernama Prof. Dr. Liong Thay Pheng.

Baca juga :  Resmi Dilantik, Pemkab Sinjai Ajak IDI Membangun Daerah

Profesor Liong yang memberi nama Phoe Nam, artinya terminal atau tempat transit. Dimaksudkan sebagai tempat singgah di selatan bagi penikmat dan pencinta kopi di Makassar.

Sekira tahun 1930, Liong Thay Hiong bersama kerabatnya sering bolak-balik dari Hainan, China, untuk mencari peluang usaha. Akhirnya, di tahun 1946 mereka mendirikan warung Phoe Nam Cold Drink.

Hanya saja, saat itu, selain menyediakan kopi, teh, dan roti selai kaya, warung ini juga menjual minuman beralkohol, seperti Anker Bir dan lain-lain.

Seiring berjalannya waktu, Liong Thay Hiong mengubah nama warungnya menjadi Warung Kopi Phoe Nam. Demi efektivitas ejaan, dua kosa kata Phoe Nam digabung jadi Phoenam.

Sejak tahun 1993, Phoenam sudah terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM RI.

Albert Liongady Liong merupakan generasi kedua pengelalo Warkop Phoenam. Setelah beliau wafat, pada Maret 2023, warkop legendaris ini dikelola oleh generasi ketiga, yakni Deddy dan Dandy.

Warkop Phoenam berpusat di Jalan Ho Eng Djie, Makassar. Jaringan warkopnya, tulis Deddy, punya beberapa cabang di Makassar. Yakni, Phoenam Boulevard, Phoenam Ratulangi, Phoenam MaRI, dan Phoenam Tanjung Bunga.

Ada pula di luar Makassar, yaitu Phoenam Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Phoenam Kahfi, Jakarta Selatan, dan Phoenam Kopkar Tonasa, Pangkep.

“Selain cabang-cabang itu, bukan Phoenam asli 1946,” tegas Deddy mengingatkan dalam tulisannya.

Iwan Azis mengaku, lebih dari separuh hidupnya dia hanya mengunjungi Warkop Phoenam. Tidak ada warkop lain, dalam ingatannya.

“Saya tidak pernah bergeser dari Phoenam, sebelum ini,” tandasnya.

Merasa Senyawa dengan Warkop Azzahrah

Iwan Azis menyadari, seiring usianya yang sudah berkepala delapan, dia tak lagi se-mobile dahulu, saat aktivitasnya masih menuntut dia harus ke berbagai tempat. Meski demikian, kebiasaannya ke warung kopi tak berubah.

Baca juga :  Bicara di Hadapan Seribu Mahasiswa, Gubernur Sulsel Bagikan Tips Jadi Pengusaha

Warkop Azzahrah, tempat di mana kami kerap bertemu, kini menjadi langganannya. Warkop dengan konsep warna mencolok merah, kuning, dan hijau ini, memulai bisnisnya dari Jalan Ujung, tahun 2008.

Azzahrah Coffee Shop & Traditional Cake lalu punya cabang di Jalan Bandang. Warkop yang fokus pada kualitas rasa kopi dan kue-kue tradisional ini, saat ini tumbuh sebagai jaringan waralaba yang ada di hampir semua sudut Kota Makassar.

Setiap kali ke Warkop Azzahrah, dia akan menelepon beberapa orang untuk ngopi bareng, termasuk saya. Pesanannya pun macam-macam, mulai dari telur setengah matang, pisang, ubi goreng, atau french fries. Menjelang sore, daftar pesanannya bertambah, berupa intel alias Indo Mie telur.

“Saya pilih Azzahrah karena sudah sesuai dengan selera saya. Sebab, tidak semua warkop bisa memenuhi kebutuhan kita. Di sini saya malah merasa senyawa dengan pelayannya. Bahkan kalau saya protes pun pelayannya bisa memaklumi. Mereka cuma senyum-senyum,” pungkas Iwan Azis memberi alasan.

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!