PEDOMANRAKYAT, JENEPONTO - Cuaca siang itu seolah ikut merestui langkah-langkah yang berkumpul di halaman Kantor Bupati Jeneponto, Jumat, 1 Mei 2026. Langit yang bersih tanpa ancaman hujan memberi ruang bagi semangat yang mengalir dalam peringatan Hari Jadi ke-163 Kabupaten Jeneponto—sebuah momentum yang tak sekadar seremonial, tetapi juga perayaan nilai dan perjalanan panjang.
Tema yang diusung tahun ini, “A’bulosibatang, Ikhlas dan Bahagia”, terasa hidup, bukan sekadar slogan. Ia menjelma dalam gerak, dalam wajah-wajah yang hadir, dan dalam kebersamaan yang tampak sejak rangkaian kegiatan dimulai beberapa hari sebelumnya.
Di Taman Turatea, lima hari sebelum puncak acara, ribuan warga telah lebih dulu menyatu dalam jalan santai. Tawa dan sapaan ringan mengalir di antara langkah-langkah santai, seolah mengingatkan bahwa pembangunan daerah tak hanya tentang beton dan angka, tetapi juga tentang rasa memiliki.
Semangat itu berlanjut ke kantor-kantor pemerintahan. Umbul-umbul terpasang, spanduk menghiasi sudut kota, dan gerakan bersih kantor dilakukan serentak. Di balik kesederhanaannya, ada pesan yang kuat: kebersamaan dimulai dari hal kecil.
Puncaknya tiba pada Jumat siang. Di halaman Kantor Bupati, suasana berubah menjadi khidmat. Gubernur Sulawesi Selatan, Sudirman Suleman, tiba didampingi Ketua Tim PKK, Bupati Jeneponto H. Paris Yaser, dan Wakil Bupati Islam Iskandar.
Prosesi penyambutan berlangsung sarat makna. Sang gubernur berjalan di atas karpet biru, dinaungi payung persegi empat yang dipegang empat pria—simbol perlindungan dan penghormatan.
Baru lima langkah melangkah, sebuah kalungan sarung dengan simpul khas melingkar disematkan ke pundaknya. Tradisi itu sederhana, tetapi menyimpan filosofi tentang keterikatan dan persaudaraan.
Di tengah suasana yang hening, sejarah singkat Kabupaten Jeneponto dibacakan oleh Rektor INTI Jeneponto, Prof. Maksud Hakim. Sejak 1 Mei 1863, daerah ini telah menapaki jalan panjang—dari masa ke masa, dari keterbatasan menuju harapan.
Namun yang paling menggugah adalah saat “10 Amanah Kunci Emas” dilantunkan oleh Fattahindi dan Bayu Dg Tompo. Setiap kalimat yang terucap seperti mengetuk kesadaran: bahwa membangun daerah tidak cukup dengan program, tetapi harus ditopang nilai, komitmen, dan integritas.
Tak hanya itu, warna budaya juga hadir kuat. ASN dan pelajar mengenakan pakaian adat secara serentak, menciptakan pemandangan yang tidak hanya indah, tetapi juga penuh makna—sebuah pengingat bahwa identitas adalah fondasi dalam melangkah maju.
Lomba taman bahagia dan lomba nyanyi berantai antar instansi pun menjadi ruang ekspresi yang berbeda. Di sana, kompetisi terasa lebih seperti kolaborasi—cerminan dari semangat A’bulosibatang itu sendiri: bersatu dalam keberagaman.
Di usia ke-163 ini, Jeneponto tidak hanya merayakan waktu yang telah berlalu. Ia sedang menegaskan arah. Bahwa persatuan, keikhlasan, dan kebahagiaan bukan sekadar nilai yang diucapkan, tetapi harus terus dihidupkan dalam setiap langkah pembangunan.
Di bawah langit yang bersahabat hari itu, Bumi Turatea seolah berbisik: perjalanan masih panjang, tetapi jika dilalui bersama, ia akan terasa lebih ringan—dan lebih bermakna. (Ardhy M Basir)

