Anti Klimaks & Elegan di Konfercab PWI Sulsel 2026

Ramzy
Ramzy 751 Pembaca
14 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Catatan M. Dahlan Abubakar

Ketika Ir. H. Suwardi Thahir (ST), M.I.Kom diumumkan sebagai Ketua PWI Sulsel periode 2026–2031, rekan FAS Rahmat Kammi memeluk saya sembari terisak sesenggukan. Rasanya dia bagaikan sudah berhasil keluar dari lubang jarum. Batin saya refleks merespons. Mata saya berkaca-kaca, ikut merasakan betapa penuh lika-likunya perjalanan untuk menjadi kandidat Ketua PWI Sulsel kali ini.

“Mungkin ini ada hikmahnya.”

Itulah kalimat penghibur dan penyabar hati yang sering saya ungkapkan kepada ST dan Mappiar saat satu-dua syarat terbentur persoalan legalitas. Perasaan ini mengisi hari-hari panjang kami menjelang Konferensi Provinsi PWI Sulsel 2026 dengan berbagai diskusi yang tiada henti.

Saya harus menyampaikan terima kasih kepada teman-teman anggota PWI kabupaten/kota. Tanpa mereka, ST dan saya mustahil bisa merebut kesempatan memimpin organisasi wartawan tertua ini lima tahun ke depan. Kami berdua merasa mendapat amunisi raksasa dari teman-teman daerah dan menyampaikan terima kasih atas aspirasi yang mereka berikan.

Begitu pula bantuan dan dukungan yang tulus dari sahabat-sahabat di TVRI Sulawesi Selatan dan RRI Makassar yang ikut mengokohkan semangat duet ST dan MDA meniti perjuangan demi perubahan ini. Para wartawan senior pun ikut bersusah payah mendukung perjuangan kami.

Bahkan, jauh beberapa tahun silam, melalui teman Rahmat, saya secara emosional dan psikologis merasa larut dan menjadi bagian dari mereka. Saya merasakan bagaimana jika berada pada posisi mereka dalam kondisi seperti itu. Kadang saya bertanya, mengapa selalu daerah yang menjadi dan dibuatkan masalah, padahal tidak ada masalah.

Oleh sebab itulah, duet ST–MDA mengusung tagline “Perubahan”. Kita harus berubah dalam segala hal, terutama dalam bidang keorganisasian. Tanpa bermaksud mengulik masa lalu, ke depan agaknya begitu banyak lubang yang membuat organisasi ini sering terperosok dan harus kita tutupi. Keledai tidak boleh terantuk dua kali pada batu yang sama.

Peserta di-“Prank”

Saya merasakan, inilah perhelatan yang penuh dengan lika-liku perjuangan. Untuk menjadi calon saja harus memenuhi empat belas syarat sesuai peraturan organisasi. Syarat-syarat itu tidak mudah diurus sendiri oleh para calon jika tidak ada tenaga sekretariat yang mampu mengorganisasikannya.

Duet ST dan MDA sangat beruntung dan merasa berutang budi kepada Andi Asmadi bersama Nur Ainun Afiah (Ayi) dan Andrian yang menjadi motor penggerak kelengkapan administrasi kami. Saya sangat yakin, tanpa trio ini—plus di-backing Ibu Ida, “mantan pacar” ST—urusan administrasi kami tidak akan tuntas dengan mudah.

Saya sendiri kesulitan menemukan kata dan kalimat yang pantas untuk mengucapkan terima kasih kepada “kuartet” ini.

Kemampuan Asmadi memenej tetek-bengek administrasi yang seabrek itu membuktikan bahwa dia tidak hanya piawai mengelola sebuah penerbitan media. Wartawan memang selalu berpikir logis dan pragmatis. Wartawan adalah seorang generalis, tetapi juga bisa menjadi spesialis.

Tentu saja yang tidak dapat kami lupakan adalah peran Sukriansyah S. Latief. Meskipun hanya sekali-dua kali terlibat dalam diskusi-diskusi kecil memecahkan langkah-langkah potensial menuju 2 Juni 2026, kehadirannya memberi warna yang signifikan dalam perjuangan ini.

Baca juga :  Buka Sosialisasi Perda, Wabup Alimin Minta Atensi Kalangan Pelaku Usaha

Kehadiran Uki—panggilan doktor ilmu hukum lulusan Unhas ini—seolah langsung mendongkrak stamina dan amunisi tim kecil kami yang kadang mulai menipis.

Bagian tulisan ini mungkin perlu menjadi koreksi terhadap kerja panitia.

Tanggal 1 Juni 2026 malam merupakan saat yang sangat kritis dan krusial. Pertama, tim sekretariat disibukkan oleh aturan panitia bahwa seluruh surat mandat harus diserahkan untuk diverifikasi paling lambat pukul 22.00 Wita. Surat mandat harus legal, ditandatangani pemberi mandat di atas kertas bermeterai, dan dilampiri fisik Kartu Tanda Anggota (KTA-B).

Repotnya, hitungan puluhan menit menjelang batas waktu, banyak pemegang KTA-B menyatakan berhalangan hadir dalam konferprov. Akibatnya, Asmadi harus bekerja ekstra keras menyiapkan mandat yang akan diverifikasi. Total hingga registrasi tercatat 41 pemilik KTA-B harus memberikan mandat.

Kekalangkabutan kedua, panitia ternyata telah mem-“prank” peserta. Seluruh peserta diwajibkan melakukan registrasi dengan batas waktu pukul 08.00 Wita pada 2 Juni 2026.

“Ini gila. Orang harus mulai registrasi pukul berapa?” saya membatin.

Membaca pengumuman panitia yang sangat tidak logis ini, saya menghubungi Wakil Ketua Bidang Daerah, Sarjono, yang mendampingi Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, Joko Tetuko A. Latief.

Saya mengatakan, jika batas waktu registrasi pukul 08.00 Wita, peserta harus mulai berdatangan pukul berapa? Sangat tidak bernalar jika sekitar 300 orang harus melakukan registrasi dalam waktu sesingkat itu. Jika setiap orang membutuhkan satu menit untuk registrasi dan verifikasi ulang mandat serta KTA-B, maka dibutuhkan sekitar 300 menit atau lima jam.

Padahal, pembukaan dijadwalkan pukul 10.00 Wita.

Pada umumnya, registrasi peserta dapat dilakukan hingga sebelum acara pembukaan dimulai. Bahkan peserta yang baru datang tetap bisa registrasi kemudian masuk mengikuti acara. Mungkin maksud panitia agar peserta hadir lebih awal. Namun, batas waktu seperti itu jelas sulit diterima akal sehat.

Membaca pengumuman tersebut, tim ST dan MDA segera menginformasikan kepada seluruh peserta agar pukul 07.00 Wita sudah tiba di lokasi konferprov.

Ada teman yang tiba menjelang pukul 07.00. Saya sendiri menjadi orang ketiga yang tiba pukul 07.00 setelah berangkat dari rumah pukul 06.30 untuk menghindari kemacetan di poros Antang.

Apa yang terjadi?

Saat peserta tiba pukul 07.00, seorang pun anggota panitia tidak tampak batang hidungnya. Di depan ruang konferprov masih kosong.

“Kita sudah di-‘prank’ panitia,” kata saya menghibur teman-teman yang memanfaatkan masa menunggu dengan mengepul-ngepulkan asap rokok di luar gedung.

Kehadiran peserta tim ST dan MDA yang lebih awal ini kami anggap saja sebagai bentuk disiplin waktu.

Di tengah masa menunggu, sebuah bus Brimob berhenti tidak jauh dari pintu masuk Graha Pena. Tidak lama kemudian, sejumlah personel berseragam hitam menyisir berbagai sudut ruangan di sekitar lokasi konferprov.

“Begitu menegangkan panitia menyikapi keamanan konferprov ini,” bisik saya kepada seorang teman.

“Itu sudah prosedur standar,” jawabnya.

Jika membaca situasi ini dari sudut pandang kritis, konferprov dipandang sebagai kegiatan yang berpotensi menimbulkan gejolak. Tanda-tanda itu sebenarnya sudah tampak dari gestur sebagian oknum panitia saat menerima verifikasi mandat di Sekretariat PWI Sulsel, Maccini Sawah, pada malam 1 Juni.

Baca juga :  Keamanan Publik dan Tanggung Jawab Moral di Ruang Sekitar Polres Jeneponto

Kegiatan konferprov ini bagaikan sebuah “perang”. Senyum dan sapaan terasa minim. Kaku sekali. Padahal, kita berharap suasana tetap cair dan apa adanya.

Tim ST dan MDA beserta para pendukungnya hanya ingin mengikuti konferprov dengan cara yang elegan dan wajar. Menang atau kalah adalah aksioma dalam kompetisi.

Ternyata panitia semalaman begadang. Mereka baru pulang pukul 02.00 dini hari setelah mempersiapkan berbagai perlengkapan konferprov.

Ini menjadi bumerang.

Registrasi baru dimulai hampir pukul 08.30 Wita.

Anti Klimaks

Pembukaan akhirnya dimulai pukul 10.30 Wita. Tidak terlalu molor memang.

Laporan Ketua Panitia, Faisal Palapa, mengawali acara pembukaan, diikuti sambutan Plt Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh, S.H., Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, S.H., Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat Joko Tetuko A. Latief yang mewakili Ketua PWI Pusat, dan Gubernur Sulsel yang diwakili Asisten Administrasi Umum Dr. Ir. H. Muhammad Arfah, S.E., M.T. sekaligus membuka konferprov.

Pleno I, II, dan III berlangsung mulus. Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus PWI Sulsel periode 2021–2026 diterima setelah diselingi beberapa interupsi dan komentar.

Tiba pada Pleno IV, Arman yang memimpin sidang menawarkan kepada dua calon untuk bermusyawarah dan bermufakat. Tujuh menit waktu diberikan untuk agenda penting tersebut.

“Suwardi saja yang wakili,” bisik saya sebelum calon Ketua PWI Sulsel periode 2026–2031 itu bangkit dari kursinya.

Mungkin tidak sampai tujuh menit, ST muncul kembali diiringi suara yang meneriakkan, “Aklamasi!”

Tiba-tiba FAS Rahmat Kammi merangkul saya sambil terisak sesenggukan. Saya pun ikut larut.

Tak lama kemudian, Amrullah Basri dan ST diundang ke podium untuk menyampaikan catatan atas musyawarah dan mufakat yang telah ditempuh. Saya selaku Ketua DKP terpilih ikut tampil sekadar menimpali visi, misi, dan program kerja yang disampaikan ST.

Skenario aklamasi ini sebenarnya sudah kami bahas di sekretariat dua malam sebelumnya. Langkah ini ditempuh mengingat dukungan teman-teman yang terus mengalir serta kemungkinan adanya tawaran musyawarah-mufakat dalam forum konferprov.

Juga untuk mengantisipasi kemungkinan merapatnya sebagian besar teman “sebelah” setelah melihat kekuatan dukungan terhadap ST dari daerah, TVRI, dan RRI yang bagaikan air bah.

Di ruang konferprov, saya yang duduk di kursi kedua dari depan kerap menoleh ke belakang, melihat peta kekuatan pendukung ST dan MDA.

Tampaknya teman-teman sangat kompak.

Bahkan sepanjang rangkaian acara, interupsi hampir seluruhnya datang dari kubu ST dan MDA.

Luar biasa cara teman-teman mengejawantahkan kesepakatan tidak tertulis yang lahir pada malam pertama mereka tiba di sekretariat Makassar.

Jalan musyawarah-mufakat dalam menentukan Ketua PWI Sulsel periode 2026–2031 ini merupakan pilihan yang paling tepat.

Yang tidak terpilih tidak merasa tercederai.

Yang terpilih pun tidak merasa mencederai pihak lain.

Baca juga :  Hari Kunjung Perpustakaan, Dispusip Sinjai Berikan Apresiasi Kepada Pengunjung

Sangat elegan dan layak dijadikan format untuk menghadirkan organisasi PWI Sulsel yang juga beraktivitas secara elegan pada masa depan.

Saya teringat saat belum memutuskan mendampingi ST.

Ketika berjalan menuju tangga turun di sekretariat tim, rekan Anwar Sanusi membisikkan agar saya bersedia menjadi pendamping ST sebagai calon Ketua DKP Sulsel.

“Carilah dulu sosok lain yang tepat. Kalau tidak ada, baru saya maju,” jawab saya enteng.

Mungkin karena sulit menemukan calon Ketua DKP yang dianggap pas dengan rekam jejak jurnalistik yang memadai, Anwar Sanusi akhirnya menetapkan saya sebagai pendamping ST.

Saya juga berharap teman-teman di daerah masih mengenal nama saya.

Ternyata sahabat FAS Rahmat Kammi merespons positif dan ikut “menjual” nama saya kepada teman-teman.

Padahal sebelumnya saya ingin berkonsentrasi di kampus dan mengasuh dua media cetak serta beberapa media daring.

Belakangan, istri memberi tahu bahwa putri saya juga sempat protes kecil.

Mengapa saya mengambil kesibukan baru di PWI, sementara aktivitas di kampus, menulis buku, dan mengelola media sudah cukup menyita waktu.

Namun istri memberi pengertian bahwa kehadiran saya adalah untuk membantu mengembalikan marwah PWI Sulsel.

Terus terang, pemilihan Ketua PWI Sulsel dan Ketua DKP Sulsel kali ini sarat makna religius.

Senin malam saya menelepon seorang teman yang dikenal sebagai penasihat spiritual mantan pasangan calon nomor 02 Indonesia. Saya meminta agar dimudahkan dan dijauhkan dari segala kendala dalam menghadapi suksesi PWI Sulsel ini.

Ia kemudian meminta nama ST dan nama saya.

Selasa pagi, 2 Juni 2026, saya meninggalkan rumah setelah membangunkan ayah yang berusia 98 tahun. Beliau datang ke Makassar untuk berobat mata.

Saat saya hendak berangkat, ayah bangun dan berusaha menghampiri saya dengan tongkat berkaki empat yang selalu menemaninya.

Saya kembali menghampiri beliau.

“Baca ... dan ayat ini di pintu sebelum melangkah,” pesannya.

Tradisi ini mengikuti kebiasaan kakek saya ketika melepas saya ke Makassar pada tahun 1971. Kakek yang lama tinggal di Tanah Suci Makkah menjadi guru spiritual bagi para tetua kampung.

Di pintu rumah, saya menunaikan pesan ayah.

Dua jam terakhir di Graha Pena, gawai saya kehabisan daya. Saya khawatir istri bertanya-tanya mengapa saya tidak menelepon sepanjang hari.

Usai salat Magrib di masjid kecil dekat Graha Pena, saya meluncur pulang menembus padatnya kendaraan di Jalan Urip Sumoharjo.

Saat tiba di rumah, ayah sedang menunaikan salat Isya.

Saya naik ke kamar. Istri pun sedang salat Isya.

Beberapa saat kemudian saya kembali masuk kamar.

“Bagaimana, Pak?” tanyanya singkat.

“Alhamdulillah, Mi,” jawab saya pendek dengan suara yang terasa berat.

“Saya terus berdoa agar diangkat kehormatan ta dalam pemilihan,” katanya.

“Terima kasih, Mi.”

Saya memeluknya sambil terisak.

Inilah kali kedua saya terisak pada 2 Juni 2026, setelah dirangkul sahabat FAS Rahmat Kammi di arena konferprov yang anti klimaks itu. (*)

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!