Anti Klimaks & Elegan di Konfercab PWI Sulsel 2026

Ramzy
Ramzy 707 Pembaca
14 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

“Suwardi saja yang wakili,” bisik saya sebelum calon Ketua PWI Sulsel periode 2026–2031 itu bangkit dari kursinya.

Mungkin tidak sampai tujuh menit, ST muncul kembali diiringi suara yang meneriakkan, “Aklamasi!”

Tiba-tiba FAS Rahmat Kammi merangkul saya sambil terisak sesenggukan. Saya pun ikut larut.

Tak lama kemudian, Amrullah Basri dan ST diundang ke podium untuk menyampaikan catatan atas musyawarah dan mufakat yang telah ditempuh. Saya selaku Ketua DKP terpilih ikut tampil sekadar menimpali visi, misi, dan program kerja yang disampaikan ST.

Skenario aklamasi ini sebenarnya sudah kami bahas di sekretariat dua malam sebelumnya. Langkah ini ditempuh mengingat dukungan teman-teman yang terus mengalir serta kemungkinan adanya tawaran musyawarah-mufakat dalam forum konferprov.

Juga untuk mengantisipasi kemungkinan merapatnya sebagian besar teman “sebelah” setelah melihat kekuatan dukungan terhadap ST dari daerah, TVRI, dan RRI yang bagaikan air bah.

Di ruang konferprov, saya yang duduk di kursi kedua dari depan kerap menoleh ke belakang, melihat peta kekuatan pendukung ST dan MDA.

Tampaknya teman-teman sangat kompak.

Bahkan sepanjang rangkaian acara, interupsi hampir seluruhnya datang dari kubu ST dan MDA.

Luar biasa cara teman-teman mengejawantahkan kesepakatan tidak tertulis yang lahir pada malam pertama mereka tiba di sekretariat Makassar.

Jalan musyawarah-mufakat dalam menentukan Ketua PWI Sulsel periode 2026–2031 ini merupakan pilihan yang paling tepat.

Yang tidak terpilih tidak merasa tercederai.

Yang terpilih pun tidak merasa mencederai pihak lain.

Sangat elegan dan layak dijadikan format untuk menghadirkan organisasi PWI Sulsel yang juga beraktivitas secara elegan pada masa depan.

Saya teringat saat belum memutuskan mendampingi ST.

Ketika berjalan menuju tangga turun di sekretariat tim, rekan Anwar Sanusi membisikkan agar saya bersedia menjadi pendamping ST sebagai calon Ketua DKP Sulsel.

Baca juga :  UsaI Menghadiri HPN 2025 , Rombongan PWI Soppeng Dijamu Owner Anto Jaya Group

“Carilah dulu sosok lain yang tepat. Kalau tidak ada, baru saya maju,” jawab saya enteng.

Mungkin karena sulit menemukan calon Ketua DKP yang dianggap pas dengan rekam jejak jurnalistik yang memadai, Anwar Sanusi akhirnya menetapkan saya sebagai pendamping ST.

Saya juga berharap teman-teman di daerah masih mengenal nama saya.

Ternyata sahabat FAS Rahmat Kammi merespons positif dan ikut “menjual” nama saya kepada teman-teman.

Padahal sebelumnya saya ingin berkonsentrasi di kampus dan mengasuh dua media cetak serta beberapa media daring.

Belakangan, istri memberi tahu bahwa putri saya juga sempat protes kecil.

Mengapa saya mengambil kesibukan baru di PWI, sementara aktivitas di kampus, menulis buku, dan mengelola media sudah cukup menyita waktu.

Namun istri memberi pengertian bahwa kehadiran saya adalah untuk membantu mengembalikan marwah PWI Sulsel.

Terus terang, pemilihan Ketua PWI Sulsel dan Ketua DKP Sulsel kali ini sarat makna religius.

Senin malam saya menelepon seorang teman yang dikenal sebagai penasihat spiritual mantan pasangan calon nomor 02 Indonesia. Saya meminta agar dimudahkan dan dijauhkan dari segala kendala dalam menghadapi suksesi PWI Sulsel ini.

Ia kemudian meminta nama ST dan nama saya.

Selasa pagi, 2 Juni 2026, saya meninggalkan rumah setelah membangunkan ayah yang berusia 98 tahun. Beliau datang ke Makassar untuk berobat mata.

Saat saya hendak berangkat, ayah bangun dan berusaha menghampiri saya dengan tongkat berkaki empat yang selalu menemaninya.

Saya kembali menghampiri beliau.

“Baca … dan ayat ini di pintu sebelum melangkah,” pesannya.

Tradisi ini mengikuti kebiasaan kakek saya ketika melepas saya ke Makassar pada tahun 1971. Kakek yang lama tinggal di Tanah Suci Makkah menjadi guru spiritual bagi para tetua kampung.

Baca juga :  19 Agustus 2022 di Monumen Mandala, Pengurus DPD II Partai Golkar Makassar Dikukuhkan

Di pintu rumah, saya menunaikan pesan ayah.

Dua jam terakhir di Graha Pena, gawai saya kehabisan daya. Saya khawatir istri bertanya-tanya mengapa saya tidak menelepon sepanjang hari.

Usai salat Magrib di masjid kecil dekat Graha Pena, saya meluncur pulang menembus padatnya kendaraan di Jalan Urip Sumoharjo.

Saat tiba di rumah, ayah sedang menunaikan salat Isya.

Saya naik ke kamar. Istri pun sedang salat Isya.

Beberapa saat kemudian saya kembali masuk kamar.

“Bagaimana, Pak?” tanyanya singkat.

“Alhamdulillah, Mi,” jawab saya pendek dengan suara yang terasa berat.

“Saya terus berdoa agar diangkat kehormatan ta dalam pemilihan,” katanya.

“Terima kasih, Mi.”

Saya memeluknya sambil terisak.

Inilah kali kedua saya terisak pada 2 Juni 2026, setelah dirangkul sahabat FAS Rahmat Kammi di arena konferprov yang anti klimaks itu. (*)

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!