Dalam dunia politik dan kekuasaan, pengorbanan demi kepentingan bersama juga terasa semakin langka. Lebih sering terlihat justru perebutan pengaruh, konflik kepentingan, dan kecenderungan mempertahankan kenyamanan masing-masing. Semua orang ingin mendapatkan bagian lebih besar, tetapi tidak banyak yang benar-benar bersedia mengurangi kepentingannya demi kepentingan masyarakat.
Di titik inilah pertanyaan Idul Adha menjadi terasa sangat berkesesuaian bahwa apa yang sebenarnya kita korbankan hari ini?
Apakah kurban masih dimaknai sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus memperkuat kepedulian sosial? Ataukah ia perlahan berubah sekadar menjadi rutinitas tahunan yang kehilangan kedalaman maknanya?
Pertanyaan tersebut penting karena ketimpangan sosial Indonesia tidak hanya soal ekonomi. Ia juga menyangkut jarak empati yang semakin melebar. Di kota besar, misalnya, kehidupan sering bergerak begitu cepat hingga banyak orang nyaris tidak lagi mengenal tetangganya sendiri. Di media sosial, kemiskinan kadang hanya lewat sebagai materi singkat yang segera tergantikan isu lain beberapa menit kemudian. Kita hidup di era ketika rasa iba sering muncul cepat, tetapi juga cepat hilang.
Padahal bangsa ini sejak lama dikenal karena budaya gotong royong dan kebersamaan sosialnya. Dalam banyak keadaan sulit, bencana alam, krisis ekonomi, pandemi, masyarakat Indonesia berkali-kali menunjukkan bahwa kekuatan terbesar bangsa ini bukan hanya terletak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kemampuan saling menopang di saat sulit.
Karena itu, Idul Adha seharusnya tidak berhenti sebagai ritual tahunan. Tetapi perlu menjadi saat perenungan bersama tentang apakah kita masih memiliki kepekaan sosial terhadap mereka yang tertinggal di tengah perubahan zaman?
Sebab mungkin yang paling perlu dikorbankan hari ini bukan hanya sebagian harta untuk membeli hewan kurban. Namun jauh lebih sulit justru mengorbankan ego, keserakahan, rasa nyaman untuk tidak peduli, serta kebiasaan menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama.
Setidaknya, di tengah dunia yang semakin bising oleh persaingan dan pencitraan, semangat berbagi dan solidaritas itulah yang justru paling dibutuhkan bangsa ini hari ini. (*)

