Dengan agak berat hati, Dedi mengitari beberapa rumah dan memastikan penghuni sekitar sudah terlelap dalam mimpi mereka.
Setelah berkeliling, Dedi kembali menemui sahabatnya dan berkata, “Seperti suasana sudah aman dan penduduk di sekitar sini sudah tidur.”
Dengan penuh semangat Andrew berkata, “Kalau begitu, ayo kita manfaatkan kesempatan ini. Kita ambil motor yang tidak terlalu diberi pengamanan itu.”
Mendengar ajakan temannya, Dedi berkata, “Tunggu dulu, Ndrew sepertinya masih ada yang harus kita yakini, apakah Dia sudah tidur atau belum?”
Penasaran dengan ucapan Dedi, Andrew bertanya, “Siapa?”
Dedi menjawab, “Allah SWT. Apakah Dia sudah tidur atau belum?, walau manusia sudah terlelap dalam mimpi mereka, dan kita merasa tidak ada orang melihat perbuatan kita, tapi apakah kita menghindar dari pengawasan Allah SWT?”
Mendengar penuturan sahabatnya, Andrew memohon maaf sembari berjanji untuk tidak melakukan lagi hal-hal dianggap tidak diketahui oleh manusia, sementara hal tersebut tetap dipantau oleh Allah SWT.
Dalam melaksanakan ibadah puasa, setiap mukmin diajak untuk menghayati Kehadiran Allah SWT., ibadah puasa yang kita jalani adalah upaya untuk menahan diri, agar tidak makan dan minum, dimana pun kita berada.
Ketika kita mampu menghadirkan Allah SWT dalam diri kita dan menyadari bahwasanya apapun yang kita lakukan, pasti diketahui oleh Allah, maka kita akan senantiasa mawas diri dan berhati-hati dalam bertindak.
Tidak mengambil barang milik orang lain hanya salah satu contoh kecil dari sekian kesadaran diri akan hadirnya Allah SWT dalam setiap tindak-tanduk mereka yang berpuasa.
Apabila ini telah mampu dilakukan, berarti kita telah berhasil melaksanakan salah satu dari tujuan berpuasa, yakni menyadari kehadiran Allah SWT. Allah A’lam
Makassat, 04 April 2022
