Cuaca Ekstrem, Disdik Makassar Terbitkan Edaran Pembelajaran Daring
PEDOMAN RAKYAT - MAKASSAR. Langit di atas Kota Makassar beberapa hari terakhir tak lagi ramah. Hujan turun deras sejak siang hingga malam, menyisakan genangan di sejumlah ruas jalan dan membuat sebagian warga memilih bertahan di rumah. Di tengah situasi itu, dunia pendidikan pun ikut menyesuaikan langkah.
Peringatan dini cuaca ekstrem yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Sulawesi Selatan melalui surat bernomor No.e.B/ME.02.04/013/KBB4/II/2026 tertanggal 23 Februari 2026, menyebutkan potensi curah hujan tinggi yang dapat memicu genangan, banjir, hingga gangguan keselamatan dan kesehatan warga. Sinyal alam itu tak diabaikan.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, S.STP., M.Si, bergerak cepat. Melalui Surat Edaran Nomor 400.35/33/Disdik/II/2026 tentang pelaksanaan pembelajaran daring di satuan pendidikan jenjang PAUD/TK, SD, dan SMP, ia meminta seluruh kepala sekolah—baik negeri maupun swasta—untuk meniadakan sementara pembelajaran tatap muka.
Edaran itu ditujukan kepada para Kepala PAUD/TK Negeri dan Swasta, Kepala UPT SPF SD Negeri dan Swasta, serta Kepala UPT SPF SMP Negeri dan Swasta se-Kota Makassar. Isinya tegas namun penuh pertimbangan: keselamatan adalah prioritas.
“Sehubungan dengan meningkatnya intensitas curah hujan tinggi di wilayah Kota Makassar yang berpotensi menimbulkan genangan air, banjir serta gangguan keselamatan dan kesehatan warga satuan pendidikan, maka pembelajaran tatap muka ditiadakan dan digantikan dengan pembelajaran daring,” demikian petikan kebijakan tersebut.
Pembelajaran daring diberlakukan mulai 25 Februari hingga 28 Februari 2026. Selama empat hari itu, ruang-ruang kelas akan berpindah ke layar gawai. Guru tetap menjalankan tugas sesuai jadwal, memberikan materi dan tugas secara efektif serta proporsional. Murid diharapkan mengikuti pembelajaran dengan tertib dari rumah masing-masing.
Sementara orang tua atau wali diminta turut mengawasi dan memastikan anak-anak mereka tetap belajar dengan baik.
Bagi sebagian orang tua, kebijakan ini menghadirkan tantangan baru—membagi waktu antara pekerjaan dan mendampingi anak belajar. Namun di tengah cuaca yang tak menentu, keputusan tersebut dinilai sebagai langkah preventif yang bijak.
Di sejumlah titik kota, genangan air memang kerap muncul ketika hujan turun dalam durasi panjang. Jalan-jalan yang biasanya ramai oleh siswa berseragam kini lebih lengang. Suara bel sekolah digantikan notifikasi aplikasi pembelajaran.
Kebijakan ini bukan sekadar soal memindahkan kelas ke ruang virtual. Ia adalah cerminan kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim yang makin tak terduga. Pemerintah kota, melalui Dinas Pendidikan, berupaya memastikan proses belajar-mengajar tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan.
Di bawah langit kelabu Makassar, pelajaran tentang adaptasi dan kehati-hatian tengah berlangsung—bukan hanya di buku teks, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Ketika hujan reda dan cuaca kembali bersahabat, sekolah-sekolah akan kembali ramai. Namun untuk saat ini, rumah menjadi ruang belajar paling aman. (Ardhy M Basir)

