Bagi penyair, masa kejayaan badik sebagai senjata eksekusi bagi tegaknya nilai siriq sudah berlalu. Ia telah menjadi situs yang menampung nilai sejarah.
Badik yang “fisik” dan menjadi kebanggaan di masa silam harus disimpan dalam peti antik. Badik yang tidak lagi terselip di pinggang dan tak ada darah di tajam ujungnya. Badik yang berhias cinta kasih kepada sesama adalah badik yang “ruh”. Badik iman yang cahayanya menjadi senyum bagi segenap solusi kedamaian umat manusia.
Sesungguhnya, tawaran badik fisik menjadi badik ruh sudah dilakukan sebelumnya oleh Aspar. Novelnya yang berjudul “Pulau” (diangkat ke layar lebar dengan judul Lelaki dari Tanjung Bira, 1990-an) sudah meletakkan badik bukan sebagai pembunuh, melainkan sekadar simbol keberanian melawan pelanggaran adat.
Di film tersebut, ada adegan siriq, yakni sepasang remaja (kallolo dan anaqdara) berduaan di tempat yang sunyi. Ayah si gadis mendatangi rumah orang tua si pemuda. Keduanya adalah nakhoda, pelaut ulung yang dihormati di kampungnya. Kedua nakhoda tersebut berhadap-hadapan dengan badik siap dihunus. Namun apa yang terjadi?
Aspar Paturusi, sebagai pengarang cerita, tidak membiarkan badik itu berbicara. Badik fisik yang terselip di pinggang kedua nakhoda “kini tenang tergeletak di peti”.
Badik ruh, yaitu “badik iman berpamor takwa” yang bersemayam di bilik hati segera tercabut. Dan solusi peradaban baru pun hadir di antara dua hati yang menanggung siriq.
Lelaki Sattu dan perempuan Aminah (pasangan remaja yang membuat malu keluarga), akhirnya dinikahkan secara adat tanpa “ada darah di tajam ujung” badik.
Demikian Aspar telah menyugesti pembaca lewat puisi “Badik”-nya. Melebur badik fisik menjadi badik iman untuk kemaslahatan peradaban umat manusia. (selesai)
Bulukumba, 20 Maret 2022

