Bukti Nyata Swasembada: Mentan Amran Tegaskan Capaian Berbasis Data Global di Mubes IKA UNHAS

Ramzy 330 Pembaca
5 Menit baca

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa capaian swasembada pangan Indonesia merupakan fakta berbasis data kredibel yang diakui secara global, bukan sekadar klaim sepihak pemerintah.

“Itu bukan kata saya. Tolong teman-teman kita luruskan, itu bukan Kementerian Pertanian yang menyampaikan. Yang menyampaikan adalah BPS, FAO, dan United States Department of Agriculture,” tegas Mentan Amran.

Hal tersebut disampaikan saat menjadi keynote speech pada Musyawarah Besar Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA UNHAS) di Four Points, Makassar, Sabtu (2/4/2026).

Di hadapan ratusan alumni dan tokoh nasional, Mentan Amran menekankan bahwa tantangan mewujudkan swasembada pangan merupakan amanah besar yang harus dijawab dengan kerja nyata dan terukur. Mentan Amran mengungkapkan bahwa target swasembada yang semula diproyeksikan dalam waktu empat tahun, berhasil dipercepat menjadi satu tahun.

“Di mana Bapak Presiden targetkan swasembada empat tahun, alhamdulillah dalam waktu satu tahun kita capai,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan tiga lembaga tersebut menjadi bukti kuat bahwa capaian swasembada Indonesia tidak bisa diperdebatkan secara subjektif.

Mentan Amran menyoroti masih banyaknya kekeliruan dalam memahami konsep dasar pangan. Mentan menjelaskan bahwa istilah swasembada (Self-sufficiency), ketahanan pangan (food security), hingga kedaulatan pangan memiliki makna yang berbeda dan tidak bisa disamakan.

Definisi yang umum digunakan secara internasional, swasembada pangan tidak berarti impor harus nol persen. Mengacu FAO, suatu negara masih dikategorikan swasembada apabila impor pangan pokok strategis tidak melebihi 10 persen dari total kebutuhan konsumsi nasional.

“Nah ini kadang tidak paham. Swasembada pangan itu impor maksimal 10 persen, itu konsensus kita. Jadi kalau impor masih di bawah 10 persen, itu masih disebut swasembada,” jelasnya.

Mentan Amran kemudian membandingkannya dengan konsep ketahanan pangan yang lebih luas.

“Ketahanan pangan itu impor maupun produksi dalam negeri, tapi cukup. Yang penting kebutuhan terpenuhi, itu ketahanan pangan,” ujarnya.

Lebih jauh, Mentan Amran juga menyinggung pentingnya pemahaman tentang kedaulatan pangan sebagai kemampuan negara mengelola sistem pangan secara mandiri.

“Kadang orang tidak mengerti apa itu swasembada, apa itu food security, apa itu food sovereignty. Ini yang harus diluruskan,” tegasnya.

Sebagai bukti konkret, Mentan Amran memaparkan capaian stok beras nasional yang disebutnya sebagai yang tertinggi sejak Indonesia berdiri, mencapai 5 juta ton pada bulan April 2026.

“Sejak kami lahir sampai 2026, ini yang tertinggi dan tidak bisa dibantah,” ujarnya.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version