“Banyak organisasi besar berdiri tanpa basis data yang rapi. Padahal, dari situlah kekuatan itu tumbuh,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menilai buku ini bukan hanya milik angkatan 1980, tetapi juga kontribusi nyata bagi almamater. Sebuah arsip hidup yang dapat menjadi rujukan lintas generasi.
Menariknya, buku ini tidak dicetak massal. Ia hadir dalam bentuk digital—softfile yang dibagikan kepada seluruh alumni. Sebuah kompromi antara kebutuhan dokumentasi dan realitas zaman yang serba cepat.
Namun, di balik format digital itu, esensinya tetap sama: menjaga keterhubungan.
Menjelang acara berakhir, tak ada yang benar-benar beranjak cepat. Percakapan demi percakapan terus mengalir, seolah waktu yang hilang puluhan tahun harus ditebus dalam hitungan jam.
Di sudut ruangan, beberapa alumni tampak membuka file buku itu dari gawai mereka. Nama demi nama muncul di layar—dan setiap nama bukan sekadar identitas, melainkan potongan cerita yang pernah mereka jalani bersama.
Hari itu, buku alumni bukan hanya diterbitkan. Ia dihidupkan.
Dan lebih dari itu, ia mengingatkan satu hal sederhana: bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada titik pulang—bernama kenangan. ( Ardhy M Basir )
