Buku Alumni IKA Smansa 80 Resmi mi Diterbitkan

Ramzy
Ramzy 499 Pembaca
3 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR -
Waktu mungkin telah membawa mereka jauh—ke kota-kota berbeda, profesi yang beragam, bahkan kehidupan yang tak lagi saling bersinggungan. Namun, Kamis siang itu (26/3/2026), di sebuah ruang pertemuan di Hotel Unhas Tamalanrea, waktu seakan dilipat kembali.

Ratusan alumni SMA Negeri 1 Makassar angkatan 1980 duduk dalam satu ruang yang sama. Tidak lagi sebagai siswa berseragam putih abu-abu, melainkan sebagai potret perjalanan panjang: ada yang menjadi akademisi, profesional, pengusaha, hingga pengabdi di berbagai daerah. Mereka datang dengan satu kesamaan—kenangan.

Di tengah suasana yang sarat pelukan dan tawa yang berulang, sebuah simbol kebersamaan dilahirkan: buku alumni IKA Smansa 80 resmi diterbitkan.

Penyerahan buku oleh Ketua IKA Smansa 80, Prof. Winarni Dien Monoarfa, kepada sejumlah tokoh alumni bukan sekadar seremoni. Ia menjadi penanda bahwa ingatan kolektif yang selama ini tercerai-berai, kini dirajut kembali dalam satu dokumentasi.

Buku itu memang hanya setebal puluhan halaman. Namun, di dalamnya tersimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar data: nama, alamat, nomor telepon—semuanya adalah pintu menuju kisah hidup yang pernah berangkat dari titik yang sama, sebuah ruang kelas di masa lalu.

“Ini bukan sekadar buku. Ini cara kita menemukan kembali satu sama lain,” kata Prof. Winarni Dien Monoarfa, menahan haru.

Di era ketika relasi seringkali bersifat cepat dan dangkal, kehadiran buku ini justru menawarkan sesuatu yang berbeda: kedalaman. Ia mengikat kembali jejaring lama yang sempat terputus oleh jarak dan waktu.

Bagi Sekretaris IKA Smansa 80, Andi Hasdullah, buku ini adalah fondasi penting yang selama ini kerap diabaikan dalam organisasi alumni—data.

“Banyak organisasi besar berdiri tanpa basis data yang rapi. Padahal, dari situlah kekuatan itu tumbuh,” ujarnya.

Baca juga :  Kaesang Sebut Danny Pomanto Jago Promosikan Makassar Kota Makan Enak

Lebih jauh, ia menilai buku ini bukan hanya milik angkatan 1980, tetapi juga kontribusi nyata bagi almamater. Sebuah arsip hidup yang dapat menjadi rujukan lintas generasi.

Menariknya, buku ini tidak dicetak massal. Ia hadir dalam bentuk digital—softfile yang dibagikan kepada seluruh alumni. Sebuah kompromi antara kebutuhan dokumentasi dan realitas zaman yang serba cepat.

Namun, di balik format digital itu, esensinya tetap sama: menjaga keterhubungan.

Menjelang acara berakhir, tak ada yang benar-benar beranjak cepat. Percakapan demi percakapan terus mengalir, seolah waktu yang hilang puluhan tahun harus ditebus dalam hitungan jam.

Di sudut ruangan, beberapa alumni tampak membuka file buku itu dari gawai mereka. Nama demi nama muncul di layar—dan setiap nama bukan sekadar identitas, melainkan potongan cerita yang pernah mereka jalani bersama.

Hari itu, buku alumni bukan hanya diterbitkan. Ia dihidupkan.
Dan lebih dari itu, ia mengingatkan satu hal sederhana: bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada titik pulang—bernama kenangan. ( Ardhy M Basir )

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!