PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Langit sore di atas Jl. Sulawesi, Makassar, Sabtu (28/2/2026), perlahan berubah jingga ketika dentuman tambur mulai terdengar dari kejauhan. Warga berduyun-duyun memadati sisi jalan, menunggu arak-arakan budaya dalam rangka Cap Go Meh—penutup rangkaian Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Tepat pukul 16.00 WITA, prosesi Cap Go Meh 2026 Kota Makassar resmi dimulai, menghadirkan perayaan yang bukan sekadar tontonan, tetapi juga perayaan kebhinekaan.
Cap Go Meh, yang dalam tradisi Tionghoa menandai hari ke-15 setelah Imlek, selalu menjadi momentum penuh makna. Di Makassar, perayaan ini tumbuh menjadi ruang temu budaya. Dari titik awal di Jl. Diponegoro, iring-iringan bergerak melewati Jl. Sangir, Jl. Sulawesi, Jl. Serui, Jl. Nusantara, Jl. Riburane, Jl. Wahidin Sudirohusodo, lalu kembali ke Jl. Diponegoro. Sepanjang rute, tepuk tangan dan sorak sorai warga menyatu dalam suasana hangat dan penuh persaudaraan.
Atraksi barongsai menjadi pembuka yang memikat. Gerakannya lincah, sesekali melompat tinggi mengikuti irama tambur yang menghentak.
Anak-anak tampak antusias, sebagian menirukan gerakan sang singa warna-warni itu, sementara orang tua mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka. Barongsai bukan sekadar simbol keberuntungan, tetapi juga lambang harapan akan tahun yang penuh berkah.
Tak lama berselang, Kirab Budaya Bhineka Tunggal Ika melintas. Rombongan peserta mengenakan busana adat dari berbagai daerah di Indonesia. Warna-warni kain, mahkota, dan ornamen tradisional menciptakan pemandangan yang memesona. Kirab ini seakan menegaskan bahwa Cap Go Meh di Makassar adalah milik bersama—milik semua yang percaya pada persatuan dalam keberagaman.
