Cap Go Meh Sebagai Puncak Perayaan Imlek, Ervan Sutono : Asimilasi Budaya Bugis Makassar

Zainal 280 Pembaca
3 Menit baca

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Cap Go Meh merupakan akhir dari rangkaian perayaan tahun baru Imlek yang dilakukan tiap tanggal 15 purnama pada bulan pertama penanggalan Tionghoa atau 2 minggu setelah tahun baru Imlek.

Perayaannya diawali dengan berdoa di Klenteng, kemudian dilanjutkan dengan iringan kenong/simbal dan pertunjukan barongsai serta liong lalu pertunjukan tradisional Tionghoa.

Sehubungan dengan hal tersebut, Ketua Generasi Muda Indonesia Tionghoa Ervan Sutono mengungkapkan, sebagai mana kita ketahui Cap Go artinya 15, sedangkan Meh artinya malam. Jadi Cap Go Meh itu bermakna malam ke-15.

“Cap Go Meh itu adalah puncak dari perayaan Imlek, yang jatuh pada malam hari ini,” beber Ervan di Vihara Ibu Agung Bahari Jl Sulawesi, Kota Makassar, Minggu (05/02/2023).

Lanjut Ervan, dimana bagi umat-umat Konghucu, Tri Dharma, dan Buddha melakukan ibadah sebagai rangkaian penutup dari sembahyang tahun baru Imlek selama 15 hari yang berujung pada sujud syukur karena kita akan masuk ke tahun yang baru, dengan harapan perjuangan dan peluang baru.

“Semangat Cap Go Meh ini merupakan asimilasi budaya, dimana tadi telah kita lihat ada dari adat Bugis Makassar, Barongsai dari etnis Tionghoa, Reog, gandrang bulo dan sebagainya, berarti Makassar ini merupakan rumah bersama kita,” ungkapnya.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version