PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Suasana ruang itu hari ini terasa berbeda. Bukan hanya karena sebuah ruang pertemuan baru diresmikan di lingkungan Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, Rabu,04/02/2026, tetapi karena nama yang tersemat di depannya membawa begitu banyak ingatan, ketegangan, rasa takut, sekaligus rasa hormat yang dalam.
Nama itu: Prof. dr. Achmad M. Palinrungi,Sp.B.,Sp.U
Di kampus UNHAS, khususnya di dunia pendidikan kedokteran dan bedah, beliau dikenal sebagai pendidik dengan standar yang nyaris tanpa kompromi. Bagi para mahasiswa dan dokter muda yang pernah berada di bawah bimbingannya, beliau adalah sosok yang mampu membuat ruang kelas mendadak sunyi hanya dengan satu pertanyaan.
Andhini L R Palinrungi, Sp.B., Sp.Onk , sang anak, dalam sambutannya menuturkan kisah tentang ayahnya bukan dengan nada keluhan, melainkan dengan pemahaman yang lahir setelah waktu dan pengalaman mengendap.
“Semua yang pernah diajar beliau pasti punya pengalaman yang sama,” kisahnya.
“Saat pertanyaan dilontarkan, ruangan mendadak hening. Jantung berdegup lebih cepat. Jawaban ada di kepala, tapi lidah terasa kelu.”
Bagi Prof. Achmad, kesalahan kecil dalam teori bukan perkara sepele. Ia percaya satu kekeliruan konsep bisa menjelma kesalahan besar di ruang praktik. Dan di dunia yang ia geluti—ruang operasi—kesalahan bukan sekadar nilai buruk. Taruhannya adalah nyawa manusia.
Sikap itu tak hanya hadir di ruang kelas UNHAS, tetapi juga di ruang operasi—ruang dengan standar tertinggi, di mana setiap gerakan harus presisi dan setiap keputusan tak bisa diulang. Di sanalah ia menanamkan disiplin, ketelitian, dan tanggung jawab yang mutlak.
Rasa takut yang dulu dirasakan mahasiswa—keringat dingin, detik yang terasa panjang, tatapan tajam dosen di depan kelas—bukanlah bentuk kemarahan tanpa alasan. Itu, kata Andhini, adalah rasa takut yang sengaja “dihidupkan” di tempat yang aman: ruang belajar.
“Beliau ingin rasa takut itu ada di kelas,” ujarnya. “Agar tidak ada rasa takut di ruang operasi.”
Sebab ada jenis ketakutan lain yang tak boleh hadir ketika pasien sudah terbaring tak berdaya di bawah lampu operasi yang menyala terang. Takut yang tak bisa diulang, tak bisa diperbaiki, dan tak bisa ditebus dengan penyesalan.
Di kelas, kesalahan masih bisa ditebus dengan belajar. Di meja operasi, tidak.
Maka ketika beliau meninggikan suara, mematahkan jawaban, atau memaksa mahasiswa membongkar ulang cara berpikirnya, itu bukan sekadar keras. Itu adalah cara beliau mencintai profesinya sebagai guru di UNHAS—dengan cara yang tidak lembut, tidak romantis, tetapi penuh tanggung jawab.
Banyak yang mungkin tak pernah mendengar beliau berkata, “Maaf saya keras.” Karena baginya, keselamatan pasien selalu lebih penting daripada perasaan sesaat di ruang belajar.
Dan waktu membuktikan, suara yang dulu ditakuti itu tak benar-benar hilang. Ia hidup dalam ingatan para muridnya—menjelma ketelitian saat memilih alat, kehati-hatian sebelum membuat keputusan, dan jeda sepersekian detik sebelum melakukan tindakan.
Suara itu berubah menjadi disiplin. Menjadi hormat pada ilmu. Menjadi kesadaran bahwa di balik setiap prosedur, ada nyawa yang dititipkan.
Hari ini, ruang pertemuan di UNHAS itu resmi menyandang nama Prof. dr. Achmad M. Palinrungi,Sp.B.,Sp.U. Namun sesungguhnya, nama itu sudah lama hidup—di setiap prosedur yang dijalankan dengan hati-hati, di setiap mahasiswa yang dibentuk dengan standar tinggi, dan di setiap pasien yang pulang tanpa pernah tahu bahwa keselamatan mereka pernah diajarkan dengan suara yang sangat keras.
Dalam doa yang dipanjatkan, keluarga menitipkan segala lelah yang pernah beliau keluarkan dalam mendidik dan membentuk generasi. Jika suaranya pernah terasa keras, itu diterima sebagai ikhtiar menjaga nyawa. Jika amarahnya pernah melukai perasaan, semoga diganti dengan pahala kesungguhan.
Karena pada akhirnya, warisan seorang guru bukan hanya gelar atau jabatan, melainkan nilai yang terus hidup di tangan-tangan yang menolong—dan pada nyawa-nyawa yang terselamatkan.
Dan mungkin, setiap kali seorang dokter muda menahan diri untuk tidak tergesa, berpikir jernih, lalu memilih tindakan dengan presisi—di sanalah cinta yang keras itu masih bekerja, diam-diam menyelamatkan kehidupan. (Ardhy M Basir)

