PEDOMANRAKYAT, GOWA – Langit Makassar mulai meredup ketika langkah-langkah kecil silaturahmi itu kembali disusun. Ahad sore, 1 Maret 2026, rombongan alumni PPSP IKIP Ujung Pandang dari berbagai lintas angkatan berkumpul di Masjid Ceng Hok, dekat danau GTC, Kelurahan Tanjung Merdeka, Kecamatan Tamalate.
Satu per satu mereka datang, menyalami sahabat lama yang mungkin telah puluhan tahun tak bersua. Waktu seperti kembali dilipat, mempertemukan kembali kenangan masa sekolah dengan niat sederhana: berbagi.
Sore itu mereka tidak langsung berangkat. Azan Ashar menjadi penanda pertama perjalanan. Rombongan yang berjumlah sekitar 15 orang itu menunaikan salat Ashar berjamaah di masjid tersebut, menunggu anggota rombongan lain yang masih dalam perjalanan.
Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju Pondok Tahfidz Ashabul Jannah di Bolangi, Kabupaten Gowa. Jaraknya sekitar 30 kilometer dari Makassar, menembus jalan yang perlahan menanjak menuju perbukitan.
Di tempat itulah, di sebuah kawasan yang berada di ketinggian, berdiri pondok sederhana tempat seratus santri menimba ilmu Al-Qur’an. Enam puluh santri laki-laki dan empat puluh santri perempuan menghabiskan hari-hari mereka menghafal ayat demi ayat, menata masa depan dengan cahaya wahyu.
Ketika rombongan tiba, senja hampir habis.
Pimpinan pondok, Ustaz Ismail, menyambut mereka dengan wajah teduh. Para santri melantunkan tilawah Al-Qur’an, suaranya mengalun pelan menyambut tamu yang datang dari kota.
Suasana itu sederhana, tetapi sarat makna.
Bagi Ustaz Ismail, rombongan ini bukan tamu baru.
“Sudah lama saya tahu dengan sekolah yang alumninya masih aktif, tapi sekolahnya sudah tidak ada lagi. PPSP itu saya tahu, tapi tidak begitu kenal orang-orangnya,” ujarnya.
Ia lalu menyebut satu nama yang paling ia ingat.
“Yang paling saya kenal adalah Ibu Hasnar Wati. Ibu Hasnar-lah yang sering membawa teman-teman PPSP-nya datang berbagi.”
Memang, kunjungan seperti ini bukan yang pertama. Beberapa bulan sebelumnya, rombongan alumni PPSP juga pernah datang. Saat itu mereka menjamu para santri dengan makan bersama, sekaligus memberikan santunan berupa beras dan sejumlah uang tunai.
Di mata para santri, kehadiran rombongan ini bukan sekadar tamu. Mereka seperti keluarga yang datang membawa kehangatan.

