Dari Reuni Alumni UIN Alauddin di Bima: (4) Prof. Muslimin: Tak Mau Tetap Jadi Penjual Minyak Tanah

Ramzy
Ramzy 649 Pembaca
8 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Catatan M.Dahlan Abubakar

Lahir 2 April 1971 di Bima, Prof.Dr. Muslimin H.Kara,M.Ag. Menyelesaikan pendidikan pada Pondok Pesantren Darussalam Gontor tahun 1994, kemudian menuntaskan pendidikan S-1 tahun 1996 di IAIN Alauddin Ujungpandang dan S-2 di UIN Jakarta pada tahun 2003.

Drs.H.Mahmud Siddik, yang duduk di kursi terdepan pada acara reuni ini, merupakan guru Prof, Muslimin di Tsanawiyah Padolo Bima. Ternyata beliaulah yang memperkenalkan IAIN Alauddin karena alumnus IAIN.
Ada beberapa teman, Ibu Nurmi, Kak Ifa (Hamidatul Alifah) dll. Hadir pada acara reuni tersebut. Mereka senior Prof.Muslimin yang me ngawali pendidikannya di Tsanawiyah Bima. Di kelas 3, Muslimin termasuk yang menonjol dan kemampuan itu meloloskan dia melanjutkan pendidikan setelah ujian masuk ke SMPN 2. Muslimin meraih Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA) karena itu tidak ada yang bisa masuk SMA atau sekolah umum kalau tidak ikut EBTA.

“Saya bersama mengikuti dengan adik Pak Bupati, Syamsu Rijal, pegawai BNI. Ada empat orang. Apa yang terjadi, NEM saya itu bebas masuk pada seluruh SMA di Bima. Yang favorit pada waktu itu SMAN 1 Bima. Karena gengsinya luar biasa,” kenang Prof.Muslimin.

Dia pun mendaftar di SMAN 1 dari Tsanawiyah satu-satunya dengan Chalid. Muslimin masuk dengan pendafraran nomor 5. Akhirnya masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dengan harapan kelak langsung jadi guru. Kebetulan pamannya akhirnya menarik Muslimin dengan “samikna wa takna” (kami mendengar dan kami patuhi). Apa yang terjadi dengan dinamika seperti itu.

Muslimin lalu dimasukkan ke Asrama di SPG. Diberikan ‘honda’ (sepeda motor) untuk pergi bersekolah. Padahal bisa sampai satu bulan dia tidak sekolah. Naik kelas 2 tidak bisa lagi ditahan. Dibina di SMA Muhammadiyah dilantik supaya menjadi mental kuat.

Baca juga :  Angan-Angan

Muslimin akhirn ya ke Pondok Pesantren Darusaalam Gontor dan belajar di sana tiga tahun. Muslimin masuk IAIN Alauddin pada tahun 1992 dan dari para guru besar yang hadir dan duduk di sini, termasuk generasi paling muda.

“Prof.Kadri M.Saleh tahun 1991. Sama Pak Gani 1990,” kata Muslimin yang terlembat karena menghabiskan waktu 5 tahun di SMA.

Muslimin anak ke-8 dari 10 bersaudara. Salah seorang kakaknya, Darafiah, juga hadir pada acara reuni. Dari sepuluh bersaudara, lima laki, lima perempuan. Ayahnya bekerja sebagai pedagang. Kalau siang pompa minyak, kadang-kadang Muslimin tak kenal panas matahari.

“Kalau dulu, di terminal Dara (sekarang), saat di Tsanawiyah,Muslimin menjalani profesi sebagai penjual minyak. Dan ini adalah jalan terpaksa,” ujarnya.

Muslimin mencatat catat baik-baik. Tahun 1992 masuk IAIN Alauddin selesai 1996. Dia menjadi mahasiswa yang pertama selesai dalam waktu 4 tahun di Fakultas Syariah. Ketika itu banyak yang selesai dalam waktu 5 tahun. Selesai bulan November 1996, masuk September 1992. Pak Maksum Rui, temannya di HMI dulu, aktivis juga, mantan Senat Mahasiswa Fakultas Syariah.
Karena ingin bersama Muslimin dia menunda wisudanya. Dia mengajar yang terbaik. Muslimin maju, satu-satunya angkatan 1992, Prof. Hamzah Hasan sudah menjadi dosen ketika itu, 1996, saat Muslimin menjadi alumni terbaik. Oleh sebab itu, diberikan amanah mengajar bahasa Arab satu semester. Tahun 1997 Muslimin ikut tes S-2 dan alhamdulillah lulus di Jakarta dengan beasiswa sampai 1999. Wisuda hari Sabtu, Senin Muslimin sudah mendaftar S-3 lagi. Dia menjalani pendidikan doktor mulai tahun 1999 dan selesai 2003.
“Saya doktor dalam usia 30 tahun dan alumni termuda. Melalui Prof. Thib Raya karena selalu berkomunikasi dengan beliau sebagai ayah sekaligus mentor. Termasuk Prof Musdah Mulia sebagai pembimbing ketika S-2,” Prof.Muslimin mengenang masa-masa pendidikannya .

Baca juga :  Gelar Operasi Patuh 2024, Satlantas Polres Pelabuhan Makassar Tindaki Puluhan Pelanggar

Dia juga menyaksikan keduanya (Prof. Thib dan Prof Musdah) menjadi doktor dan saat itu sudah di Jakarta. Ketika selesai S-3, Muslimin ditawari Pak Ayumardi Azra (Prof. Dr., almarhum) tinggali di Jakarta. Dia mengetahui Muslimin merupakan doktor pertama dalam Hukum Islam. Namun Muslimin menolak. Sebab, kalau menerima itu sama dengan tidak tahu berterima kasih kepada IAIN Alauddin.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!