Dekonsentrasi Pangan Sekolah: Mengapa Indonesia Harus Merelevansi Tata Kelola ‘Merenda Escolar’ Timor Leste?

Ramzy
Ramzy 28 Pembaca
7 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

​Local Sourcing: Mengubah Gizi Menjadi Akselerator Ekonomi Desa
​Poin paling krusial yang wajib menjadi perhatian Presiden RI adalah aturan ketat mengenai mandat penyerapan lokal (local sourcing policy). Undang-undang di Timor Leste mewajibkan seluruh komoditas bahan pangan mulai dari beras, jagung, kacang-kacangan, sayur, telur, hingga ikan wajib dibeli dari petani, peternak, dan nelayan lokal di sekitar wilayah sekolah tersebut.

​Dampaknya bersifat multiplikatif terhadap ekonomi makro regional. Program intervensi gizi ini secara otomatis bertransformasi menjadi mesin penggerak ekonomi pedesaan. Petani lokal mendapatkan kepastian pasar (captive market) dan stabilitas harga, yang pada gilirannya efektif menekan angka kemiskinan di daerah rural.

​Untuk wilayah pelosok dengan kerentanan pangan tinggi seperti Ermera, Ainaro, dan Oecusse, pemerintah setempat secara cerdas mengintegrasikan program pendukung seperti HATUTAN (yang didukung oleh CARE dan asistensi internasional) guna menyuplai bahan pangan tambahan tanpa merusak ekosistem pasar lokal.

Rekomendasi Strategis dan Catatan Kritis untuk MBG Indonesia

​Untuk mengoptimalkan implementasi MBG di tanah air, Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden RI perlu mempertimbangkan tiga rekomendasi teknokratis berikut:

​Eliminasi Pendekatan Sentralistik (De-centralized Supply Chain):

Memaksakan pasokan bahan baku dari satu pusat logistik nasional (national logistic hub) ke daerah-daerah terpencil di Indonesia hanya akan memicu pemborosan anggaran di sektor transportasi (diseconomies of scale) dan menurunkan kualitas kesegaran pangan.

​Pemberdayaan, Bukan Korporatisasi: Jika MBG Indonesia hanya menjadi proyek tender katering skala besar, maka program ini gagal menjadi stimulus ekonomi rakyat. MBG harus menempatkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), koperasi, dan Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai aktor utama dalam ekosistem pengadaan.

​Harmonisasi Kelembagaan yang Integratif: Kolaborasi taktis antara Kementerian Pendidikan, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Desa di Timor Leste dalam mengawal satu program harus dicontoh. Indonesia memerlukan harmonisasi ⁰ hampa (institutional silo).

Baca juga :  Jelang HUT ke-77 TNI, Pangdam Hasanuddin Pimpin Doa Bersama di Masjid Raya Makassar

​Momentum Transformasi Paradigma
​Indonesia memiliki kapasitas fiskal, sumber daya manusia, dan infrastruktur yang jauh lebih besar daripada Timor Leste. Namun, dalam hal tata kelola program pangan sekolah, Indonesia harus berjiwa besar untuk mengadopsi kedisiplinan serta efektivitas sistem yang dibangun oleh tetangga terdekatnya.

​Presiden RI memiliki momentum emas untuk mengevaluasi total pendekatan uji coba MBG saat ini. Dengan menggeser paradigma dari sekadar “membagikan makanan gratis” menjadi “membangun kedaulatan pangan berbasis komunitas dan sekolah”, Indonesia tidak hanya akan berhasil mengentaskan stunting, tetapi juga sekaligus menghidupkan kembali sendi-sendi ekonomi pedesaan yang selama ini lesu.

​Perbaikan signifikan tidak dimulai dari memperbesar alokasi anggaran secara tidak terukur, melainkan dari ketepatan desain tata kelola (governance design) yang membumi, transparan, dan berpihak pada ekonomi kerakyatan. Timor Leste telah membuktikannya; kini giliran Indonesia mengambil langkah strategis tersebut.

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!