Di Balik Meja Belajar: Tradisi “Wu Jiao”, Tidur Siang yang Wajib bagi Siswa di Tiongkok

Ramzy
Ramzy 599 Pembaca
21 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh : Ardhy M Basir

Di sebuah ruang kelas di daratan China, suasana tiba-tiba berubah sunyi selepas makan siang. Buku-buku ditutup, lampu diredupkan, dan satu per satu siswa merebahkan kepala di atas meja. Bukan karena kelelahan semata, melainkan karena ada satu kegiatan yang memang dijadwalkan: tidur siang.

Pemandangan ini mungkin terasa asing bagi banyak sekolah di Indonesia, di mana tidur di kelas kerap dianggap pelanggaran disiplin. Namun di Tiongkok, khususnya di jenjang sekolah dasar, tidur siang justru menjadi bagian dari rutinitas pendidikan.

Tradisi ini dikenal sebagai wu jiao (午觉), yang secara harfiah berarti “tidur siang”. Kegiatan ini umumnya berlangsung sekitar 30 hingga 60 menit setelah makan siang. Di sejumlah sekolah dasar—termasuk beberapa yang pernah disorot media lokal seperti Sekolah Dasar Gaoxin (sering disebut dalam laporan sebagai bagian dari kawasan pendidikan di kota-kota besar seperti Shenzhen atau Xi’an)—para siswa diwajibkan mengikuti waktu istirahat ini.

Di dalam kelas, meja belajar berubah fungsi menjadi tempat beristirahat. Dengan bantal kecil atau sekadar lengan sebagai alas, siswa menundukkan kepala dan terlelap dalam suasana yang telah diatur rapi oleh guru. Posisi duduk hingga arah kepala pun sering diatur agar ruangan tetap tertib.

Bagi sebagian siswa, ini menjadi jeda yang menenangkan di tengah padatnya aktivitas belajar. Bukan tanpa alasan, banyak anak di perkotaan Tiongkok menempuh perjalanan cukup jauh dari rumah ke sekolah. Pulang ke rumah hanya untuk beristirahat sejenak tentu tidak efisien. Maka, sekolah menghadirkan solusi sederhana: istirahat di tempat.

Lebih dari sekadar kebiasaan, wu jiao juga didukung oleh pandangan kesehatan. Dalam sejumlah studi di bidang Ilmu Kesehatan dan Psikologi Pendidikan, tidur siang singkat terbukti membantu meningkatkan konsentrasi, daya ingat, serta suasana hati siswa. Karena itu, tak heran jika praktik ini juga ditemukan di berbagai sekolah di Taiwan.

Baca juga :  Menjamin Keselamatan Masyarakat Pesisir, Polres Pelabuhan Makassar Laksanakan Patroli Dialogis di Dermaga Pelabuhan Paotere

Meski demikian, tidak semua fasilitas sekolah mampu menyediakan tempat tidur yang layak. Di banyak kasus, terutama di sekolah dengan keterbatasan ruang, meja belajar tetap menjadi “ranjang darurat”. Namun hal itu tidak mengurangi esensi utama dari kegiatan ini: memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat.

Perbedaan ini menghadirkan refleksi menarik. Jika di Indonesia tidur di kelas kerap diidentikkan dengan kemalasan, di Tiongkok justru menjadi bagian dari sistem yang terstruktur. Dua pendekatan berbeda dalam memandang kebutuhan dasar siswa.

Barangkali, di balik keheningan ruang kelas saat wu jiao, tersimpan satu pelajaran sederhana: bahwa belajar tidak selalu soal terus bergerak maju, tetapi juga tentang tahu kapan harus berhenti sejenak.

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!