Suwardi menjadi figur pertama yang secara terbuka menyatakan kesiapannya maju dalam kontestasi tersebut. Keputusan itu bukan sekadar langkah politik organisasi, melainkan bagian dari keinginannya untuk memperkuat fondasi yang telah dibangun oleh para pemimpin sebelumnya.
Ia menyebut nama-nama tokoh yang pernah memimpin PWI Sulsel dengan penuh penghormatan. Bagi Suwardi, kemajuan organisasi hari ini adalah hasil dari kerja panjang para pendahulu.
Menurutnya, organisasi tidak perlu sibuk mempersoalkan masa lalu. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana menjadikan pengalaman itu sebagai pijakan untuk melangkah lebih jauh.
Organisasi sebagai Rumah Bersama
Jika kelak dipercaya memimpin, Suwardi menyatakan komitmennya untuk melanjutkan program-program yang sudah berjalan baik. Di saat yang sama, ia juga ingin mendorong lahirnya berbagai gagasan baru agar organisasi tetap relevan di tengah perubahan.
Baginya, tujuan utama organisasi bukan sekadar eksistensi, melainkan juga kesejahteraan anggotanya. PWI harus menjadi ruang yang mampu memperkuat profesionalitas wartawan sekaligus menjaga martabat profesi.
“Pada akhirnya, yang kita perjuangkan adalah kemajuan organisasi dan kesejahteraan anggota,” ujarnya.
Malam yang Menyisakan Optimisme
Menjelang malam, azan magrib telah lama berlalu. Hidangan berbuka pun sudah habis, namun percakapan para jurnalis masih terus mengalir. Cerita tentang liputan lama, kisah di lapangan, hingga diskusi masa depan media menjadi penutup pertemuan itu.
Tak ada pidato panjang, tak pula suasana formal. Hanya silaturahmi sederhana yang menghadirkan kembali semangat kebersamaan di antara para wartawan.
Dari sebuah meja buka puasa di sudut Kota Makassar, gagasan tentang kolaborasi, adaptasi, dan masa depan organisasi kembali ditegaskan: bahwa PWI Sulsel adalah rumah bersama, dan masa depannya ditentukan oleh kebersamaan para penghuninya.

