Ketika Irwan berbicara, suaranya tidak menggelegar. Ia seperti sedang bercakap dengan dirinya sendiri atau dengan hati rakyat yang diam-diam menimbang. “Kepercayaan rakyat adalah amanah,” katanya. Amanah kata yang berat, sebab ia tak bisa ditinggalkan ketika lelah datang. Amanah yang menuntut hadir bahkan ketika tepuk tangan telah usai.
“Satu tahun bagi pemerintah mungkin hanya angka,” lanjutnya, “tetapi bagi rakyat, satu tahun bisa berarti perubahan arah hidup.” Kalimat itu seperti mengetuk kesadaran bahwa setiap tanda tangan di atas kertas sesungguhnya bergetar sampai ke dapur-dapur rumah sederhana, sampai ke tangan petani yang retak oleh matahari, sampai ke anak-anak yang memandang masa depan dengan mata yang masih bening.
Di tengah suasana itu, terjadi pula peristiwa yang lebih dari simbol. PT Vale Indonesia Tbk menyerahkan surat kesediaan pelepasan hak atas aset kepada negara untuk dikelola pemerintah daerah. Sebuah isyarat bahwa tanah dan bangunan bukan hanya angka dalam neraca, melainkan ruang hidup yang harus kembali kepada kepentingan umum. Dari Bank Sulselbar hadir satu unit truk sampah mungkin sederhana bentuknya, tetapi ia akan berkeliling kampung, mengangkut sisa-sisa yang tak diinginkan, menjaga kebersihan yang sering dianggap remeh padahal menyangkut martabat.
Namun yang paling hening adalah saat santunan diserahkan kepada sekitar seratus anak yatim di Malili. Anak-anak itu berdiri dengan pakaian terbaik mereka beberapa mungkin masih menyimpan rindu yang tak sempat diucapkan kepada orang tua yang telah tiada. Di hadapan mereka, jabatan menjadi kecil. Yang tersisa hanyalah pertemuan antara tangan yang memberi dan tangan yang menerima dan di antaranya, doa yang tak terdengar tetapi terasa.
Pada momen itu, kepemimpinan tidak lagi berbicara tentang program, target, atau capaian. Ia berbicara tentang kehadiran. Tentang kesediaan untuk melihat yang lemah, mendengar yang sunyi, dan merangkul yang tertinggal.
Di Rumah Kaca itu, sejarah setahun dikenang. Bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk diingat bahwa amanah belum selesai, dan perjalanan membangun Luwu Timur masih panjang.
