Ia juga menekankan bahwa transformasi pelayanan publik tidak bisa dilepaskan dari struktur pemerintahan yang adaptif. “Transformasi pelayanan publik melalui inovasi tata kelola terlihat dari struktur pemerintahan mereka yang bersifat dinamis. Struktur itu bisa menyesuaikan kebutuhan masyarakat, sehingga inovasi menjadi bagian dari mekanisme, bukan pengecualian.”
Baginya, leveraging innovation berarti memaksimalkan seluruh sumber daya—pengetahuan, teknologi, hingga budaya kerja—untuk memperkuat dampak pelayanan.
“Inovasi dipandang sebagai tanggung jawab kolektif birokrasi, bukan proyek individual,” pungkasnya pagi itu.
ASN Kompeten, Layanan Lebih Berkualitas
Diskusi yang dipandu Fenty Kusuma W., S.Psi., dari Bagian SDM, memberi ruang dialog terbuka. Peserta tidak hanya menyimak, tetapi juga mengaitkan praktik di luar negeri dengan tantangan pelayanan publik di dalam negeri.
Pada titik inilah urgensinya terasa. PETIS Seri IX menegaskan arah transformasi LAN menuju Bigger, Smarter, Better. Lebih besar dalam peran strategis membangun kapasitas ASN, lebih cerdas dalam metode pembelajaran yang adaptif dan berbasis praktik, serta lebih baik dalam mendorong tata kelola yang efektif dan berdampak.
Tujuan akhirnya menghadirkan aparatur yang kompeten agar pelayanan publik benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Inilah wujud nyata komitmen “ASN Kompeten, Rakyat Sejahtera” ketika inovasi dikelola secara kolektif,
sistem diperbaiki secara berkelanjutan, dan pelayanan publik hadir lebih cepat, tepat, dan berkualitas bagi masyarakat.
Demikian Humas Pusjar SKMP LAN, Adekamwa, menyampaikan kepada media ini. (re)
