PEDOMAN RAKYAT, MAKASSAR – Menulis sejarah kampung bisa dilakukan secara partisipatif dan kontekstual oleh warga kampung itu sendiri. Semangat ini yang diusung dalam kegiatan Workshop Penulisan Sejarah Kampung “Gaukang ri Lakkang”, yang akan diadakan di Kelurahan Lakkang, Sabtu-Minggu, 4-5 April 2026.
“Kegiatan Gaukang ri Lakkang ini bertujuan untuk menggali, mendokumentasikan, serta melestarikan sejarah dan nilai-nilai budaya lokal masyarakat,” terang Sofyan Basri, Tim Kerja Gaukang Ri Lakkang, Jumat (3/4).
Workshop Penulisan Sejarah Kampung “Gaukang Ri Lakkang 2026”, bertema “Dari Kampung untuk Kampung: Menulis Sejarah Delta Lakkang dari Dalam”.
Ada 3 pemateri yang akan dihadirkan, yakni Ferdhiyadi (peneliti, pengajar sejarah, dan pegiat literasi), Subarman Salim (pegiat sejarah dan budaya), dan Rusdin Tompo (penulis, pegiat literasi, dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan.
Sofyan Basri, selaku penanggung jawab kegiatan menjelaskan, selama ini, sejarah kampung lebih banyak ditulis dari luar oleh peneliti, akademisi, maupun lembaga—dengan cara pandang yang seringkali memosisikan kampung sebagai objek.
Dalam proses tersebut, kata dia, pengalaman hidup warga, ingatan kolektif, serta pengetahuan yang tumbuh dari keseharian seringkali terpinggirkan. Bahkan tidak dianggap sebagai sumber pengetahuan yang sah.
“Akibatnya, kampung tidak hanya kehilangan narasinya, tetapi juga perlahan kehilangan cara untuk memahami dirinya sendiri,” papar dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM) itu.
Ditambahkan, dalam banyak konteks, situasi ini berjalan beriringan dengan praktik perampasan ruang hidup di berbagai kampung, baik melalui pembangunan yang tidak berpihak, ekspansi industri, maupun kebijakan yang mengabaikan keberadaan dan pengetahuan warga.

