Hibah Buku dari Alumni untuk Almamater Unhas

Ramzy
Ramzy 784 Pembaca
8 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

Menghibahkan buku merupakan cara saya berkomunikasi kepada seseorang atau institusi. Lewat buku-buku yang didonasikan itu, saya terhubung dengan sekolah, komunitas, coffee shop, taman baca, juga perpustakaan.

Kenangan di Perpustakaan Unhas

Seperti pada Kamis, 26 Februari 2026, saya ke kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) membawa belasan buku, baik yang saya tulis sendiri maupun yang saya sunting sebagai editor.

Sebelum ke Tamalanrea, saya berkomunikasi terlebih dahulu dengan Andi Nasri Abduh, S.Sos, M.Hum selaku Humas Perpustakaan Unhas. Biar saya bisa langsung ke sana, tak harus mutar-mutar bertanya.

Sebab, sekalipun saya alumni Unhas, tetapi sudah lama sekali saya tidak ke perpustakaan pusat yang berada di dekat Rektorat itu.

Pada masa kuliah, 1987-1992, perpustakaan pusat menjadi salah satu tempat yang saya kerap kunjungi. Tidak selalu untuk membaca, terkadang hanya untuk sekadar beristirahat.

Ini terutama pada tahun-tahun awal masa perkuliahan. Pasalnya, sebagai mahasiswa kita butuh menyiasati dan mengisi waktu, saat jeda kuliah, pagi hingga sore.

Kala itu, kalaupun saya membaca buku di perpustakaan pusat, bukan buku-buku hukum yang bertalian dengan disiplin ilmu saya. Namun lebih banyak saya membolak-balik buku seni rupa, berupa buku-buku profil dan reproduksi karya para maestro, seperti Paul Gauguin, Vincent van Gogh, Rembrandt van Rijn, Pablo Picasso, dan lainnya.

Tahun-tahun 80an itu, saya masih getol melukis. Jadi segala sesuatu yang berkaitan dengan seni rupa selalu menarik perhatian saya.

Itulah ingatan saya pada Perpustakaan Unhas, sebagai tempat ngaso, dan bisa ngobrol dengan teman di tempat yang nyaman. Selain itu, di sini saya juga bisa menemukan buku-buku yang memenuhi selera visual estetik saya.

Baca juga :  Pj Bupati Enrekang Hadiri Kunjungan Kerja dan Ceramah Umum Bersama Menpan RB di Makassar

Di Fakultas Hukum Unhas, seingat saya, dahulu ada perpustakaan di bawah ruang dekanat. Nanti ruang perpustakaan ini diubah fungsinya menjadi ruang-ruang kuliah.

Oleh teman-teman, ruang-ruang kuliah dengan jendela kaca besar itu disebut sebagai akuarium hehehe. Karena mereka yang kuliah di dalam ruangan itu bisa terlihat dari luar, begitupun sebaliknya.

Semua ruangan di area ini, kini masuk dalam wilayah Fakultas Ilmu Budaya (FIB).

Tata Letak Ruangan Terasa Lapang

Setelah menaiki tangga menuju lantai dua, saya melihat ke arah pintu yang di atasnya terdapat tulisan dwi bahasa: PERPUSTAKAAN UNHAS (dalam huruf kapital), dan tulisan Hasanuddin University Library, lengkap dengan alamat website, e-mail, dan akun medsos.

Saya masuk lalu bertanya di bagian front office. Saya diarahkan untuk ke ruangan berkaca.

Mata saya seketika tertuju pada pappasangna Tomatoa yang ditulis dalam aksara Lontaraq, warna merah. Tepat di bawahnya ada tulisan berbahasa Makassar dalam huruf Latin: Pangassenganga Niballaki Nijagaiki, Naia Tosseng Barang-Barang Niballaki Nijagaipi.

Kemudian ada pula tulisan dalam bahasa Inggris, Treasure is guarded by its owner, knowledge guards its keeper.

Tulisan yang sarat pesan filosofis itu kira-kira berarti bahwa harta itu akan dijaga oleh pemiliknya, sedangkan pengetahuan akan menjaga pemiliknya.

Di sebelah kiri ruangan berdinding kaca yang dimaksud tadi, terdapat foto Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa, M.Sc, dan logo Unhas, yang dicetak di atas kanvas.

Saya membaca tulisan tangan Pak Rektor: “Jadilah sumber cahaya untuk kecerdasan Unhas dan bangsa”. Tulisan yang dibubuhi tanda tangan JJ itu sederhana tetapi punya makna kuat.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!