Inmemoriam Dr.dr.H.Rachmat Latief, Sp.PD-KPTI, FINASIM Tak Terlupakan, Tiga Momen Kenangan

Ramzy
Ramzy 673 Pembaca
9 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Prof. dr. H.A.M. Akil (almarhum) akhirnya menangani kesehatan ayah dengan melakukan endoskopi, yakni pemeriksaan dengan selang kamera ke lambung. Caranya, selang yang di ujungnya terpasang kamera mini dimasukkan melalui mulut ayah dan dari luar didorong hingga melewati kerongkongan dan tiba di lambung. Saya menyaksikan hasil potret kamera kecil itu di layar komputer yang juga bisa dilihat oleh pasien (ayah). Namun, baik saya maupun ayah, jelas tidak paham terjadinya luka pada lambung tersebut. Hanya Prof. Akil yang paham. Hasil pemeriksaan membuktikan bahwa terjadi “ulkus pepticum” (luka pada lapisan dalam lambung) atau “duodenum” (usus halus akibat terkikisnya lapisan pelindung oleh asam lambung). Prof. Akil pun pun memberikan resep untuk menyembuhkan luka yang terjadi pada lambung ayah.

Alhamdulillah, Hb ayah yang semula hanya berkisar 5, bisa naik hingga 11-12, mendekati normal (13,3-17,5 untuk pria dewasa). Ayah pun batal ke Palu dan kembali ke Bima setelah adik Nurhayati yang datang dari Palu ke Makassar. Hb adalah protesin kaya zat besi di dalam sel darah merah yang berfungsi mengikat dan mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh serta membawa kembali karbon dioksida ke paru-paru. Fungsi Hb, untuk kepentingan transportasi oksigen ke seluruh tubuh, transportasi karbon dioksida, dan memberi warna merah pada darah.

Setelah diopname di RS Ibnu Sina, Prof. Akil kerap bertanya mengenai keadaan ayah bila bertemu dengan saya di kampus sebelum beliau meninggal. Begitu pun ayah tetap mengirim salam takzim kepada Prof. Akil hingga suatu hari saya memberi tahu ayah bahwa Prof. Akil telah berpulang. Mendengar berita duka itu, ayah langsung mengangkat tangannya, bedoa dan membacakan surah Al Fatihah untuk almarhum Prof. Informasi yang sama juga terjadi antara saya dengan dr. Rachmat Latief pasca-opname ayah tersebut. Rachmat Latief kerap bertanya mengenai ayah, begitu pun sebaliknya. Ayah selalu bertanya perihal dokter yang pernah memeriksanya menjelang ke Palu yang batal itu.

Baca juga :  Ngopi Bareng Sambil Dengarkan Aspirasi Masyarakat, Polres Pelabuhan Makassar Laksanakan Jumat Curhat

Kamis (9/4/2026) melalui adik Hj Sri Suharni, nomor telepon genggam, (gawai)-nya, sedang tidak aktif. Saya kemudian mengirim pesan WA melalui nomor telepon adik Sri Suharni dengan harapan dia dapat membacakan pesan itu kepada ayah. Ayah sejak dua bulan terakhir praktis tidak bisa lagi membaca yang menjadi kegiatan yang selalu dilakukannya.
Pada pukul 23.00 Wita, tiba-tiba adik Sri melakukan video call (VC). Saya pun memberi tahu ada pesan yang saya dikirim.
“Tadi sudah diberi tahu. Abu sudah mendoakan dan membacakan Al Fatihah untuk almarhum,” kata adik Sri.
Mendengar suara saya, Ayah pun mengambil gawai adik Sri dan saya memberi tahu.

“Dokter Rachmat sudah berpulang…,”.
“Innalillahi wa innailaihi rajiun……Ya dokter yang pernah memeriksa saya saat berencana ke Palu dulu,” ayah menambahkan.

“Belum tidur?,” tanya saya karena tidak biasa ayah begadang hingga pukul 23.00 Wita.
“Sekarang, saya susah tidur pada malam hari,” katanya.

“Mungkin kebanyakan tidur siang,” kata saya.
“Iya, karena tidak ada pekerjaan. Membaca sudah tidak bisa lagi,” jawabnya.

Saya pun menyarankan datang kontrol matanya yang habis dioperasi setahun lalu di Makassar, Ayah masih ragu-ragu. Namun saya menjelaskan, mungkin nanti setelah menjalani kontrol dan katarak di mata kanan dioperasi, ayah bisa membaca lagi.

“Nantilah dilihat akhir April ini,” jawabnya.
“Iya, nanti suruh antar Haji Muslim. Kembalinya ke Bima, nanti kita antar,” kata saya.

“Silakan beristirahat!, Ayah” saya memberi tahu karena waktu sudah mendekati larut malam saat komunikasi VC ini berlangsung. (M.Dahlan Abubakar).

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!