Lebih jauh lagi, dampaknya tidak kecil.
Sedikitnya 40 pengamen yang menggantungkan hidup di kawasan itu akan kehilangan penghasilan. Jika satu orang menanggung lima anggota keluarga, berarti sekitar 200 orang akan terkena imbas langsung. Ini bukan angka kecil. Ini manusia. Ini perut yang harus diisi setiap hari.
Menggusur tanpa solusi bukan penataan, itu pemutusan kehidupan.
Kota memang perlu tertib. Tapi ketertiban yang mengorbankan rakyat kecil tanpa jalan keluar hanyalah bentuk lain dari ketidakadilan yang dibungkus rapi. Jika SUCER dianggap bukan ikon, lalu apa definisi ikon itu sendiri? Apakah harus megah, bersih, dan steril dari kehidupan rakyat kecil? Atau justru ikon sejati adalah ruang hidup yang tumbuh dari masyarakatnya?
Pemerintah seharusnya tidak hanya pandai menggusur, tapi juga mampu merangkul. Relokasi yang manusiawi, penataan yang inklusif, dan dialog yang terbuka adalah jalan tengah yang lebih beradab.
Karena pada akhirnya, kota bukan hanya soal bangunan dan aturan.
Kota adalah manusia. Dan SUCER adalah salah satu denyutnya.
