Oleh: Sjahrir Bintamsi (Ketua DPD-FKN Provinsi Sulawesi Barat)
Nusantara sejak dahulu dikenal sebagai wilayah yang kaya akan sistem kepemimpinan tradisional. Dalam lintasan sejarahnya, masyarakat membangun struktur sosial, adat, dan politik yang beragam, namun memiliki satu tujuan yang sama, yakni: menjaga keteraturan, keadilan, dan keharmonisan hidup bersama. Dalam hal ini, dikenal tiga figur kepemimpinan yang memiliki peran penting, yakni Tomakaka Adaq, Raja hingga Sultan.
Tomakaka Adaq: Akar Kepemimpinan Lokal yang Demokratis.
Di bumi Malaqbi Mandar, jauh sebelum terbentuknya kerajaan atau kesultanan, telah hidup suatu sistem kepemimpinan adat yang dikenal dengan Tomakaka Adaq. Figur ini merupakan cikal bakal kepemimpinan tertua yang tumbuh dari kebutuhan masyarakat akan keteraturan dan kebersamaan.
Tomakaka Adaq bukan sekadar pemimpin formal, melainkan Kepala Suku sekaligus pemimpin adaq tertinggi yang dihormati karena kearifan, keteladanan, dan integritasnya. Kepemimpinannya tidak bersandar pada kekuasaan koersif, tetapi pada legitimasi moral yang lahir dari kepercayaan masyarakat.
Dalam menjalankan perannya, Tomakaka Adaq memimpin musyawarah, merumuskan keputusan berdasarkan kesepakatan bersama, serta memastikan norma dan hukum adat ditegakkan secara adil. Nilai-nilai seperti kebersamaan, keseimbangan, dan keadilan menjadi landasan utama dalam setiap keputusan. Di sinilah terlihat bahwa praktik demokrasi berbasis kearifan lokal telah hidup dan berkembang secara alami dalam masyarakat di bumi Malaqbi Mandar sejak masa lampau.
Pengayom dan Penjaga Harmoni Sosial
Lebih dari sekadar pemimpin struktural, Tomakaka Adaq adalah pengayom masyarakat. Ia hadir sebagai penjaga harmoni sosial, penengah konflik, dan pelindung nilai-nilai adat. Dalam posisinya, ia tidak ditakuti, melainkan dihormati dan dipercaya.
Hubungan antara Tomakaka Adaq dan masyarakat bersifat organik yang terjalin dari rasa saling memiliki dan tanggung jawab bersama. Kepemimpinan ini mencerminkan model ideal di mana kekuasaan tidak menciptakan jarak, tetapi justru memperkuat ikatan sosial.
