Kenangan Wukuf di Arafah 34 Tahun Silam

Ramzy 195 Pembaca
13 Menit baca

Waktu seminggu untuk menunggu hari wukuf serasa satu tahun. Begitu lama rasanya. Soalnya, pada hari wukuf itulah saya akan bertemu istri. Melampiskan rasa rindu setelah berhari-hari terpisah di Tanah Suci.
Setelah mengambil mikat dan menunaikan salat sunat 2 rakaat dalam pakaian ihram di Masjid Bir Ali, mobil SAPTCO meluncur kencang menuju Mina melintasi jalan bebas hambatan dengan lebar beberapa jalur. Tujuan kami hari itu adalah Mina sebagai persiapan menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf.
Kami menginap dua malam di Mina sembari menunggu hari wukuf yang merupakan rukun utama ibadah haji. Bus SATPCO kami masih gunakan menuju Arafah. Dengan catatan, setelah menurunkan jemaah, bus keluar dari Arafah.
Saat kami tiba, jalan di Arafah sudah sangat sesak. Sampai-sampai bus kami nyaris menyeruduk salah seorang jemaah Arab di depan kendaraan yang ditumpangi. Sempat juga muka si Arab itu memperlihatkan gestur tidak nyaman. Namun, pengemudi bus yang saya pimpin segera membelai-belai janggutnya. Si Arab yang sudah bermuka murka itu akhirnya tersenyum.

“Allah..Allah,” pekik si sopir bus kami.
Saya pun turun dari mobil untuk mencari tenda Tiga Utama. Saya berjalan cepat menguak lautan manusia sembari mata melotot setiap ada papan nama di gerbang tenda. Pas ada tanda PT Tiga Utama saya hendak melangkah masuk. Astaga, hampir saja saya menabrak istri tercinta di pintu masuk tenda.
“Mau ke mana ki?,” tanya istri yang belum hilang kaget dan herannya bisa berjumpa denhgan suaminya di pintu masuk kompleks tenda Tiga Utama.

“Ya, mencari tenda kita,” jawab saya kemudian menitip kantong kecil yang saya bawa.
Saya kemudian berlari menuju bus yang ditinggalkan. Mudah dikenali karena ada nomor 82 di depan kacanya. Saya memberi kode kepada para penumpang agar segera turun dan menuju ke tenda PT Tiga Utama mengikuti jejak pemandu.

Sepanjang hari saya dan istri berdoa di sisi lain tenda yang diisi oleh puluhan jemaah. Tibalah waktu magrib, saya harus berpisah dengan istri. Begitu berat berpisah dengan istri. Dia harus mengikuti rombongan jemaah haji yang dipandunya. Saya pun harus menghadapi dua kelompok jemaah dari bus yang jumlahnya 40-an orang itu yang sudah dibagi menjadi dua bus “coaster”, kapasitas 20-an orang.
Dari Arafah sekitar lepas magrib itu, kami mabit (memungut kerikil) di Musdalifah. Kendaraan kecil itu pun bergerak menuju Mina dalam iringan kendaraan yang sangat panjang.
Pergerakan bus “coaster” itu mungkin lebih cepat semut merayap. Bayangkan, malam hari kami memungut kerikil, hari sudah sekitar pukul 11.00 belum sampai di Mina.

Sialnya, selama dalam perjalanan, saya direpoti oleh seorang jemaah pria lansia. Dia ditemani oleh istrinya yang juga lansia. Si suaminya ini sepanjang perjalanan suka usil. Selalu mengusik jemaah perempuan di dekatnya. Tangannya liar. Istrinya, kerap memukul tangannya agar berhenti “liar” memegang sembarang orang. Namun saat sedang tenang, penyakitnya kambuh.

Sampai di tenda tim Haji Indonesia di sebelah Terowongan Mina, jemaah lansia yang ‘nakal’ itu jatuh sakit. Saya menitipnya di Tim Kesehatan Haji Indonesia setelah memberi informasi agar bisa diantar ke Mina setelah dia baikan. Saya tidak tahu bagaimana kabar jemaah tersebut. Tentu Tim Kesehatan Haji Indonesia sudah mengurusnya.

Saya pun berjalan kaki dari tenda Tim Kesehatan Haji Indonesia ke Mina melalui Terowongan Mina yang menelan banyak korban jiwa setahun sebelumnya. Pada saat saya melintas tahun 1992, Terowongan Mina sudah dibuat dua jalur. Jalur yang ke dan dari Mina berbeda. Namun saya melihat, ada juga satu dua jemaah yang nakal. Mereka melawan arus dengan berjalan di pinggir-pinggir terowongan.

Situasi yang paling berat adalah ketika harus keluar dari Mina setelah melontar jamarat Aqabah untuk segera melaksanakan tawaf ifadah. Biasa juga disebut tawaf ziarah. Tawaf ini wajib dilaksanakan jemaah agar ibadah hajinya sah.
Gerakan meninggalkan Mina itu harus dilakukan sebelum magrib. Saya harus memikul tas pakaian yang begitu berat dengan berjalan kaki menuju Mekkah dan memandu jemaah asal Solo yang didampingi. Kami berjalan saja mengikuti jemaah yang di depan, sebab pasti mereka juga bertujuan sama, melaksanakan tawaf ifadah.

Setelah melengkapi seluruh rukun haji, saya pun mengantar jemaah haji yang didampingi menggunakan bus ke Jeddah. Bertepatan pula menjelang jemaah kambali ke Tanah Air, kami harus memberikan suara pada acara pemilihan umum tahun 1992, tepat pada tanggal 9 Juni. Kami hanya mencoblos kartu suara kemudian memasukkkan ke kotak yang tersedia tanpa menggunakan bilik suara, tetapi mencoblos di lobi hotel.

Pemilu saat itu pemilu diikuti Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya, dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Golkar kemudian memenangkan 73,11% suara (282 kursi), PPP 15,96% (62 kursi) dan PDI 10,93% (56 kursi).
Menjelang keberangkatan jemaah asal Solo kembali ke Tanah Air, saya tidak sempat menyapa mereka. Nanti melalui telepon, salah satu keluarga yang ditemani anak gadisnya menyampaikan perasaan sangat menyayangkan tidak sempat bertemu dengan saya sebelum meninggalkan Jeddah.

Ya, sekadar menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas jasa saya sudah menampingi selama sebulan di Tanah Suci.
Hingga kini, komunikasi dengan keluarga ini putus sama sekali. Mudah-mudahan mereka sehat walafiat dan selalu mengenang saat menunaikan ibadah haji tahun 1992, saat saya menemani mereka sejak tiba dan meninggalkan Jeddah.
Setelah jemaah kembali ke Indonesia, saya bergabung kembali dengan istri di salah satu hotel di Jeddah. Istri juga mendampingi dua anak panti asuhan dari Bulukumba yang dihajikan oleh Pak Ande. Ada juga Ibunda dari Mustari Ato yang selalu bersama istri.

Selama beberapa hari di Jeddah saya bisa melepaskan rindu sepuas hati dengan istri. Kecuali satu, sebab ‘hajjah’ baru ini, sedang itu…Ha..ha..
Selamat hari Raya Idul Adha. Maaf lahir dan batin. (M.Dahlan Abubakar)

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version