Kegiatan yang berlangsung dari pukul 16.00 hingga 17.30 WITA itu terasa singkat, tetapi cukup untuk membuktikan satu hal: literasi tidak membutuhkan waktu panjang, ia hanya membutuhkan konsistensi.
Di tengah lingkar, suara peserta menjadi bagian dari teks yang tak tertulis. “Bagus ini kalau setiap minggu ki adakan, kak,” ujar Noval. Sebuah usulan yang sederhana, tetapi menyimpan harapan besar—bahwa pertemuan seperti ini tidak berhenti sebagai agenda, melainkan menjadi kebiasaan.
Lingkar Baca, pada akhirnya, bukan sekadar metode. Ia adalah sikap. Tentang bagaimana manusia memilih untuk tidak berjalan sendiri di antara buku-buku. Tentang bagaimana membaca tidak lagi menjadi aktivitas sunyi, tetapi menjadi peristiwa sosial yang mengikat.
Harapannya pun tidak muluk. Cukup agar kita tetap melingkar di antara buku—bukan sebaliknya, di mana buku yang perlahan menjauh dari kita. ( Musakkir Basri )

