Ketika Silaturahim Menjadi Doa: Alumni SMP Suryo Sumarno Menyambut Ramadhan

Ramzy 284 Pembaca
3 Menit baca

Ia mengenang sekolah dan asrama sebagai ruang yang menempa kedisiplinan sekaligus kepekaan sosial. Waktu boleh berlalu dan peran hidup berubah, tetapi ikatan yang tumbuh sejak remaja tetap melekat kuat.

“Bagi saya, pertemuan ini sangat menyentuh. Kami pernah tumbuh bersama dalam kesederhanaan, saling menguatkan di usia yang masih sangat muda. Kini, ketika usia bertambah dan Ramadhan kembali menyapa, silaturahim seperti ini terasa jauh lebih bermakna,” tutur Walasari.

Menurutnya, menyambut Ramadhan bersama teman-teman lama menghadirkan ketenangan tersendiri—ada rasa pulang, ada keikhlasan untuk saling memaafkan, dan ada kesadaran bahwa persaudaraan yang dirawat dengan niat baik akan selalu menemukan jalannya.

Ketua angkatan, H. Rusdy, menegaskan bahwa kebersamaan ini adalah warisan nilai yang harus terus dijaga. Bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga mengingatkan kembali pada jati diri.

“Kami boleh berbeda jalan hidup, tetapi akar kami sama. Silaturahim seperti ini adalah bentuk syukur atas umur dan kesempatan. Apalagi menjelang Ramadhan, ini momen terbaik untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah dan sesama,” tutur H. Rusdy.

Di tengah hiruk-pikuk Gobar Kuliner Gontang, pertemuan itu menjelma menjadi oase. Sebuah perjumpaan yang menegaskan bahwa persaudaraan yang dirawat dengan nilai keislaman akan selalu menemukan jalannya—melampaui waktu, usia, dan perubahan zaman.
Silaturahim itu pun ditutup dengan doa dan harapan: semoga Ramadhan yang akan datang membawa keberkahan, serta pertemuan-pertemuan berikutnya tetap terjaga dalam bingkai iman, keikhlasan, dan persaudaraan. (Ardhy M Basir)

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version