KKSS Eropa Dilantik di Den Haag, Warga Sulsel Dorong Diplomasi Budaya di Benua Biru

Ramzy 18 Pembaca
4 Menit baca

KKSS Eropa juga disebut telah terdaftar sebagai organisasi resmi bidang sosial dan budaya di Prancis. Herlina menilai capaian itu menjadi modal penting untuk menjaga organisasi sebagai rumah bersama warga Sulawesi Selatan di Eropa.

“KKSS Eropa adalah aset keluarga Sulawesi Selatan yang harus dirawat, dilestarikan dan diwariskan ke generasi berikutnya,” kata Herlina Zain.

Herlina berharap ke depan kepengurusan KKSS Eropa tidak hanya diisi generasi pertama asal Sulsel. Ia ingin generasi kedua, termasuk anak-anak diaspora yang tumbuh di Eropa, ikut terlibat dalam kepengurusan organisasi.

Menurut dia, keterlibatan generasi kedua akan menjadi bagian penting dari peta sejarah dan budaya warga Sulsel di luar negeri. Hal itu juga diperlukan agar identitas budaya tetap hidup dalam keluarga diaspora.

Herlina juga menegaskan KKSS Eropa siap menjadi duta Sulawesi Selatan di Benua Eropa.

Peran itu diarahkan untuk memperkenalkan kekayaan alam, budaya, seni, dan kuliner Sulsel kepada masyarakat internasional.

Namun, ia menilai upaya tersebut membutuhkan kolaborasi dengan pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota di Sulawesi Selatan. Sinergi itu dibutuhkan agar promosi budaya dan potensi daerah bisa berjalan lebih kuat.

Lily Amelia Salurapa menyampaikan dukungan BPP KKSS terhadap pengurus baru. Ia berharap KKSS Eropa dapat menjadi obor dan jembatan Indonesia di Benua Eropa.

Lily juga mengapresiasi pelaksanaan pelantikan dan pentas seni yang dinilai mampu mempromosikan budaya, seni, kostum, dan gastronomi Sulawesi Selatan. Kegiatan tersebut disebut menjadi ruang penting untuk mengenalkan identitas Sulsel kepada publik Eropa.

Acara pelantikan turut dihadiri Wakil Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Mariska Dwianti Dhanutirto. Ia mengapresiasi antusiasme warga Indonesia, khususnya warga Sulawesi Selatan, yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Mariska juga menyampaikan dukungan terhadap kegiatan KKSS Eropa. Ia menilai penampilan tarian, lagu, kostum, dan kuliner Sulsel menjadi bagian dari promosi budaya dan pariwisata Indonesia di Belanda.

Sesi Tudang Sipulung menjadi ruang silaturahmi warga Sulsel dari berbagai negara Eropa. Para peserta berkomunikasi dengan bahasa daerah, mengenakan kostum khas, dan menikmati makanan khas Sulsel. (*)

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version