Jika semua pengalaman itu ditarik ke satu garis besar, ada satu pelajaran yang sangat jelas bahwa program makan sekolah bukan soal “seberapa cepat dan seberapa banyak”, tetapi “seberapa kuat sistemnya”.
Negara yang berhasil tidak membangun program ini secara serentak dalam skala besar tanpa kesiapan. Kecenderungannya dimulai bertahap; memperkuat sistem pemantauan, dan evaluasi; memastikan standar keamanan pangan, lalu baru memperluas cakupan. Bahkan disiapkan daerah uji coba sebelum dimulainya pelaksanaan program sepenuhnya.
MBG Indonesia: Di Antara Ambisi dan Sistem
Dalam kerangka Indonesia, MBG adalah program dengan ambisi besar yang berpeluang menjadi salah satu bentuk penanaman modal sosial paling penting dalam pembangunan manusia Indonesia. Namun pengalaman negara lain memberikan peringatan yang penting bahwa program sebesar ini tidak cukup hanya dengan mobilisasi anggaran dan distribusi cepat.
Terdapat beberapa titik penting yang menentukan masa depan program ini:
Pertama, keamanan pangan bukan variabel tambahan melainkan landasan utama. Dalam banyak negara, satu kejadian gagalnya keamanan pangan saja bisa merusak kepercayaan publik yang dibangun bertahun-tahun.
Kedua, makanan harus benar-benar dimakan, bukan hanya disajikan. Penerimaan siswa terhadap menu menjadi indikator yang sering diabaikan, padahal sangat menentukan efektivitas program.
Ketiga, tata kelola menentukan kualitas akhir. Program ini melibatkan banyak pelaku baik pemerintah pusat, daerah, sekolah, penyedia makanan dan lainnya. Tanpa kejelasan peran dan pengawasan, kualitas akan sangat beragam.
Keempat, skala besar membutuhkan langkah bertahap, bukan loncatan. Pengalaman mancanegara menunjukkan bahwa pendekatan bertahap jauh lebih aman daripada perluasan serentak tanpa penguatan sistem.
Penutup: Ukuran Keberhasilan yang Lebih Jujur
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan program makan sekolah tidak bisa berhenti pada jumlah porsi yang dibagikan atau jumlah anak yang terlayani. Apalagi membandingkan jumlah porsi terjual dari salah satu gerai ayam terkenal.
Ukuran yang lebih jujur adalah apakah negara mampu memastikan setiap anak mendapatkan makanan yang aman, bergizi, layak, dan konsisten setiap hari. Standar inilah yang digunakan banyak negara yang sekaligus menjadi tantangan sebenarnya yang kini dihadapi Indonesia dalam mengelola MBG.
Tentunya tantangan ini bukan untuk mengecilkan capaian, tetapi untuk memastikan bahwa ambisi besar ini benar-benar menjadi investasi manusia, bukan sekadar program logistik berskala besar. (*)
