Mata Investor Melirik Palu, Visi Hadianto Melompati Waktu

Ramzy
Ramzy 793 Pembaca
5 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh: Yahdi Basma
(Sastrawan Politik Palu)

Gelombang investasi yang mulai mengalir ke Kota Palu hari ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah akumulasi dari arah kebijakan, konsistensi kepemimpinan, dan keberanian mengambil posisi strategis dalam peta ekonomi regional. Dalam konteks ini, kehadiran Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, tidak sekadar administratif—melainkan memainkan peran sebagai economic orchestrator yang membaca masa depan dan memaksa realitas untuk mengejarnya.

Momentum itu kini menemukan bentuk konkretnya melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) secara B to B, antara PT Lingkar Nusantara Gas (LNG) dan PT Bangun Palu Sulawesi Tengah (BPST), yang menandai masuknya investasi senilai USD 20 juta atau sekitar Rp342,8 miliar ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu.

Infrastruktur Energi: “Game Changer” KEK Palu

Jelang siang Sabtu itu di Jakarta, 18 April 2026, saya ikuti diskusi tiktokan (baca: ketat dialogis), antara Wali Kota Palu Hadianto Rasyid dengan Direktur LNG Leonard Hastabrata, sesekali diselingi oleh Country Manager CIMC-ENRIC Mr. Rolin Zhang dan penjelasan sela Direktur PT. BPST Sony Panukma Widianto. Saat diskusi berlangsung, saya agak sulit ikuti substansinya, karena ke-4 nya berbahasa Inggris, dengan Wali Kota Palu semacam keynote speech-nya.

Ringkas nya, Investasi ini tidak bersifat simbolik. Ia menyasar jantung persoalan kawasan industri yakni ketersediaan energi.

Proyek yang akan dibangun meliputi, LNG receiving terminal, Unit regasifikasi, dan jaringan gas (jargas) terintegrasi di dalam kawasan.

Seluruh infrastruktur ini dirancang untuk memastikan pasokan energi yang stabil, efisien, dan presisi terhadap kebutuhan tenant industri.

Pembangunan jaringan gas dijadwalkan mulai tahun 2026 dan ditargetkan rampung pada 2027, sementara pengembangan terminal lanjutan diproyeksikan selesai pasca-2028.

Baca juga :  IAS Bangga Jadi Bagian Dari Keluarga PMTI

Dalam terminologi ekonomi kawasan, ini adalah critical enabling infrastructure. Tanpa energi yang pasti, tidak ada industrialisasi yang berkelanjutan. Dan di titik inilah, visi Hadianto tampak melompat: membangun fondasi sebelum investor datang, bukan sebaliknya.

KEK Palu: Dari Keterbatasan Utilitas ke Daya Tarik Global

Direktur Utama BPST secara terbuka mengakui bahwa selama ini KEK Palu menghadapi keterbatasan pada utilitas dasar seperti gas, listrik, dan air.

Artinya, selama bertahun-tahun, problem utama bukan pada potensi—melainkan pada kesiapan infrastruktur.

Masuknya PT LNG sebagai investor sekaligus operator utilitas, mengubah struktur tersebut secara fundamental.

Skema kerja sama ini juga cerdas secara fiskal, dimana Investor membangun dan mengelola, sementara KEK memperoleh pendapatan dari tariff/utility fee.

Ini bukan sekadar proyek, tetapi model bisnis kawasan yang berkelanjutan.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!