Oleh : Ardhy M Basir
Rindu itu kadang datang lewat aroma. Bukan suara, bukan pula wajah, tapi bau rempah yang tiba-tiba menyeruak dan menarik ingatan pulang berpuluh tahun ke belakang. Begitulah yang dirasakan dua sahabat asal Makassar, Andi Emma Mannaungi dan Endang Sri Hartati, saat langkah mereka terhenti di sebuah rumah makan bernama Losari Kuliner di Depok, Jawa Barat.
Nama itu seperti memanggil kenangan.
Bagi Emma dan Endang, Losari bukan sekadar nama. Ia adalah potongan masa kecil, kampung, dan cerita hidup. Keduanya dulu pernah tinggal di kawasan Losari, salah satu kampung yang tak jauh dari denyut Pantai Losari Makassar. Di sanalah persahabatan mereka tumbuh—dari obrolan sore, kegiatan keluarga, hingga kisah-kisah sederhana yang kini hanya bisa diputar ulang lewat ingatan.
“Waktu lihat papan namanya Losari Kuliner, saya langsung merinding. Rasanya seperti ada yang memanggil, seperti Makassar menyapa kami di tanah rantau,” tutur Andi Emma Mannaungi sambil tersenyum haru.
Berada di alamat Jl. Ir. H. Juanda No. 9H, Depok, rumah makan ini memang menjadi oase bagi perantau asal Sulawesi Selatan. Menu yang tersaji bukan main-main—semuanya khas Makassar. Ada nasi campur, mie titi, jalangkote, barongko, pisang epe, sarakbak, Coto Makassar, hingga konro yang kuahnya kaya rempah.
Begitu pesanan datang, meja kecil mereka seolah berubah menjadi ruang nostalgia.
Aroma kuah coto yang hangat, potongan daging konro yang empuk, hingga manis legit barongko menghadirkan suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bukan cuma soal rasa, tapi tentang kenangan yang ikut tersaji di setiap piring.
“Gigitan pertama mie titi langsung bawa saya ke suasana rumah dulu. Rasanya hampir sama seperti di Makassar. Di sini bukan cuma makan, tapi seperti pulang sebentar,” ungkap Endang Sri Hartati.
Di tengah hiruk pikuk Depok, Losari Kuliner menjadi ruang temu rasa dan rindu. Bagi Emma dan Endang, tempat ini bukan sekadar rumah makan, melainkan jembatan emosional antara masa lalu dan masa kini.
Mereka tertawa mengenang masa kecil, membandingkan rasa, dan saling menyuapi pisang epe seperti dulu berbagi jajanan di kampung. Waktu seperti melambat, memberi ruang bagi rindu untuk ditenangkan.
“Merantau itu memang bikin kuat, tapi tetap saja ada ruang kosong yang cuma bisa diisi suasana kampung. Untung ada tempat seperti ini. Jadi kalau kangen Makassar, kami tahu harus ke mana,” kata Emma.
Losari Kuliner pun menjadi bukti bahwa kampung halaman tak selalu soal tempat, tapi tentang rasa, kenangan, dan orang-orang yang berbagi cerita. Di sudut Depok itu, dua sahabat menemukan kembali sepotong Makassar—di atas meja makan, di antara uap kuah hangat, dan dalam tawa yang tak pernah berubah sejak mereka masih di Losari.
Dan rindu pun, setidaknya untuk sore itu, terobati.


