Mengawinkan Pasar dan Tradisi: Ketika Kuliner Makassar, Nilai Filosofi, dan Teknologi AI Bersatu

Ramzy
Ramzy 98 Pembaca
5 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

​Sentuhan AI: Menembus Pasar Global Tanpa Hambatan Bahasa

​Menanggapi tantangan promosi di era modern, Budayawan Yudhistira Sukatanya menawarkan solusi visioner dengan memanfaatkan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan.

​Menurut Yudhistira, AI dapat menjadi jembatan ampuh untuk mengenalkan kekayaan budaya dan kuliner Sulawesi Selatan ke kancah internasional.

​”Dalam promosi kuliner dan budaya, kita bisa meminta bantuan AI. Misalnya, pembuatan konten promosi tentang Tari Pakarena, pembuatan perahu Pinisi, hingga filosofi coto dan jalankote bisa dikemas jauh lebih menarik. Dengan AI, konten tersebut dapat diterjemahkan dan disesuaikan ke berbagai bahasa di dunia, sehingga mampu menembus pasar internasional tanpa hambatan bahasa,” urai Yudhistira.

​Penggunaan AI dinilai mampu mendongkrak daya pikat visual dan narasi (storytelling) kuliner lokal agar bernilai jual tinggi di mata dunia.

​Edukasi, Konsistensi, dan Peran Ibu

​Sementara itu, Anggota DPRD Sulsel, Yeni Rahman, S.Si., M.Pd, menekankan bahwa budaya tidak boleh terjebak pada simbol ritual semata, melainkan tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten.

​”Budaya itu adalah sesuatu yang dilakukan berulang-ulang. Kalau mau tampil menarik dan berhasil, kita harus konsisten minimal 3 bulan tanpa berubah, dan itu butuh kesabaran,” jelas Yeni.

​Wakil Ketua Bapemperda DPRD Sulsel ini juga menyoroti salah kaprah perayaan Hari Kebudayaan. Menurutnya, esensi kebudayaan bukan sekadar mewajibkan anak-anak memakai baju bodo ke sekolah. Lebih dari itu, kearifan lokal dan filosofi setiap makanan khas Makassar harus masuk ke dalam kurikulum pendidikan.

​Yeni juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam pelestarian ini. “Budaya harus dimulai dari ibu. Saat ini kita mulai kehilangan tradisi seperti Sinrili dan sepak takraw. Di sisi lain, sekarang justru ramai budaya pantun, padahal pantun bukan budaya asli kita (Sulsel),” pungkasnya.

Baca juga :  Unismuh Makassar Paparkan Rencana Pembukaan Prodi S1 Ilmu Hukum Di Kantor LLDIKTI IX

​Acara yang berlangsung interaktif ini diakhiri dengan sesi tanya jawab, membuka ruang kolaborasi baru bagi para pelaku UMKM, budayawan, dan pemangku kebijakan untuk bersama-sama merawat tradisi sekaligus menumbuhkan kesejahteraan finansial masyarakat Makassar. (Ardhy M Basir)

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!