Menjaga Marwah Demokrasi di Balik Kemeja Putih PWI Sulsel

Ramzy 635 Pembaca
3 Menit baca

Oleh : Ardhy M Basir

​Gelaran Konferensi Provinsi (Konferprov) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan yang akan berlangsung pada Selasa, 2 Juni mendatang di Hall Graha Pena Makassar, bukan sekadar agenda rutin lima tahunan. Bagi sekitar 405 jurnalis yang akan hadir, momentum ini adalah panggung pembuktian bagaimana sebuah organisasi profesi tertua dan terbesar di Indonesia ini merawat nilai-nilai demokrasi.

​Ada simbolisme yang menarik dalam perhelatan kali ini. Imbauan panitia agar seluruh elemen—baik panitia, peserta penuh, maupun peninjau—mengenakan kemeja putih seragam bukan sekadar urusan estetika visual. Warna putih senantiasa identik dengan kesucian, ketulusan, dan lembaran baru. Dalam konteks suksesi kepemimpinan, gerakan "memutihkan" arena ini harus dimaknai sebagai komitmen bersama untuk menjaga niat suci: membawa PWI Sulsel ke arah yang lebih baik, tanpa menanggalkan rasa persaudaraan.

​Demokrasi di tubuh PWI Sulsel akan diuji melalui suara dari 305 peserta penuh yang memiliki hak pilih sah, serta dihadiri oleh 100 peserta peninjau. Angka-angka ini mencerminkan dinamika dan besarnya porsi kepemilikan anggota terhadap masa depan organisasinya.

​Kehadiran dua pasangan calon yang telah ditetapkan oleh PWI Pusat—duet Amrullah Basri – Abd Jurlan dan pasangan Suwardi Thahir – Dahlan Abubakar—adalah berkah demokrasi. Dua poros ini menawarkan figur-figur terbaik yang siap mewakafkan waktu dan pikirannya untuk organisasi. Kompetisi di antara kedua kubu ini tidak boleh dipandang sebagai ajang perpecahan, melainkan sebagai kontestasi gagasan, rekam jejak, dan visi ke depan.

​Sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Panitia, Faisal Palapa, perbedaan pilihan adalah hal yang lumrah dalam organisasi yang sehat. Justru dari perbedaan itulah kematangan berpikir kita sebagai jurnalis diuji. Kita dituntut untuk mampu memisahkan antara dinamika politik organisasi dengan hubungan personal sesama kuli tinta yang selama ini terjalin erat di lapangan.

​Siapa pun yang nantinya terpilih untuk menduduki kursi Ketua PWI dan Ketua DKP Sulsel, mereka adalah representasi dari kehendak mayoritas anggota yang harus dihormati. Tugas besar menanti pemimpin baru, mulai dari peningkatan kompetensi wartawan di era digital, penguatan perlindungan hukum profesi, hingga menjaga independensi pers.

​Mari kita songsong Konferprov PWI Sulsel ini dengan penuh sukacita dan kedewasaan. Mari kita tunjukkan kepada publik bahwa para pemburu berita di Sulawesi Selatan tidak hanya mahir menulis tentang demokrasi di media, tetapi juga mampu mempraktikkannya dengan anggun, santun, dan bermartabat di rumah mereka sendiri. Selamat berkonferensi, jaga persatuan di balik putihnya kemeja kita.

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version