Ia juga berharap kontestasi internal ini berjalan dengan elegan, di mana adu argumen, kematangan etika, dan penghormatan terhadap hak suara menjadi panglima dalam berdemokrasi.
“Salurkan hak suara Anda berdasarkan nurani dan rasa tanggung jawab demi mewujudkan PWI Sulsel yang jauh lebih progresif, inklusif, dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan anggotanya,” cetusnya.
Di mata Abdul Razak, riak-riak perbedaan dalam sebuah organisasi adalah bumbu demokrasi yang lumrah terjadi. Kendati demikian, ia mewanti-wanti agar gesekan tersebut tidak melampaui batas hingga memicu keretakan dan polarisasi di tubuh PWI.
Ia menekankan, siapa pun figur yang diberi mandat memimpin kelak, harus memiliki jiwa kepemimpinan yang akomodatif—mampu merajut kembali semua potensi yang sempat terbelah, serta membawa PWI melangkah gagah menghadapi disrupsi dunia pers modern.
Pada akhirnya, Konferensi PWI Sulsel tahun ini diharapkan menjadi batu pijakan untuk membenahi internal, mempererat solidaritas antar-jurnalis, serta melahirkan suksesi kepemimpinan yang membawa angin segar bagi kejayaan pers di Sulawesi Selatan. (*)

