Dalam kerangka kegiatan disebutkan bahwa Sulawesi Selatan merupakan ruang ingatan yang luas, menyimpan jejak kerajaan, tradisi maritim, kisah perlawanan, hingga warisan budaya lintas generasi. Namun, kekayaan tersebut belum sepenuhnya dapat diakses secara setara.
Ridwan mengungkapkan, kelompok disabilitas masih kerap menghadapi hambatan dalam mengakses informasi sejarah dan budaya. Mulai dari dominasi konten visual tanpa alternatif, minimnya narasi audio, hingga penggunaan bahasa yang tidak ramah.
“Banyak informasi yang belum sepenuhnya aksesibel. Ini membuat sejarah yang seharusnya menjadi milik bersama justru terasa jauh bagi sebagian orang,” jelasnya.
Kondisi tersebut berdampak pada terbatasnya akses penyandang disabilitas terhadap pemahaman sejarah dan budaya daerahnya sendiri, padahal hal itu berkaitan erat dengan identitas, rasa memiliki, dan kepercayaan diri sebagai bagian dari masyarakat.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital dinilai membuka peluang besar. Informasi kini dapat dikemas dalam berbagai format—teks, audio, visual, maupun kombinasi—yang lebih adaptif dan inklusif.
Melalui workshop ini, peserta dari berbagai ragam disabilitas—mulai dari disabilitas netra, Tuli, fisik, psikososial, hingga intelektual—diajak untuk menggali sejarah, mengenali warisan budaya, dan mengolahnya menjadi bentuk cerita baru yang lebih terbuka dan mudah diakses.
Ridwan menegaskan, pendekatan co-creation inklusif menjadi penting agar penyandang disabilitas tidak lagi sekadar menjadi penerima informasi, melainkan subjek aktif yang mencipta, menafsirkan, dan menyampaikan ulang cerita.
“Jika dikelola dengan tepat, teknologi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan disabilitas dengan warisan budayanya,” katanya.
Dengan pelibatan langsung tersebut, konten yang dihasilkan diharapkan menjadi lebih relevan, adil, dan representatif. Sekaligus membuka ruang lahirnya narasi budaya yang tidak hanya menjaga ingatan masa lalu, tetapi juga membangun masa depan yang lebih inklusif.
“Sejarah tidak boleh eksklusif. Ia harus bisa disentuh, didengar, dipahami, dan dimiliki oleh siapa saja,” pungkas Ridwan Mappa. ( Ardhy M Basir )

