“Apa yang telah dirumuskan oleh tim formatur merupakan buah dari musyawarah yang sangat matang. Kami optimis struktur yang akan disahkan nanti merefleksikan semangat rekonsiliasi dan soliditas internal PWI Sulsel,” tuturnya.
Di sisi lain, Muhammad Dahlan Abubakar melayangkan penegasan bahwa Dewan Kehormatan tidak akan tinggal diam terhadap problematika keanggotaan, termasuk isu miring seputar KTA maupun nasib anggota yang tengah didera sanksi organisasi.
Ia menggaransi bahwa seluruh proses pemulihan dan penertiban bakal berjalan objektif dengan kiblat yang jelas, yakni Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) organisasi.
“Marwah dan kehormatan organisasi adalah harga mati yang harus kita jaga bersama. Oleh karena itu, setiap noktah persoalan keanggotaan akan dieksekusi secara profesional dan taat asas,” cetus Dahlan dengan nada tegas.
Setali tiga uang dengan H. Mappiar yang konsisten menyuarakan pentingnya persatuan, Abdul Razak Arsyad juga memuji formasi kepengurusan kali ini yang dinilai sukses menjembatani berbagai faksi dan latar belakang di tubuh PWI Sulsel.
“Kami melihat arsitektur kepengurusan yang disusun kali ini sangat representatif. Daerah, lintas generasi, hingga berbagai elemen organisasi mendapatkan porsi yang seimbang. Ini adalah bukti sahih adanya komitmen untuk membangun PWI Sulsel yang inklusif dan merangkul semua lini,” papar Abdul Razak Arsyad.
Pemanfaatan ruang digital dalam rapat ini juga menjadi preseden baik bahwa transformasi teknologi mampu mendongkrak efektivitas tata kelola organisasi modern. Meski raga terpisah ratusan kilometer, tanggung jawab dan amanah besar hasil konferensi tetap bisa dituntaskan tanpa cela.
Kini, dengan proses finalisasi yang tinggal selangkah lagi, nakhoda dan gerbong baru PWI Sulsel diharapkan bisa segera berlayar. Harapan besar digantungkan agar organisasi ini tumbuh semakin solid, profesional, serta menjadi motor penggerak dalam mendongkrak mutu dan kompetensi para jurnalis di Bumi Sawerigading. (*)
