Melihat tumpukan masalah yang tak kunjung usai, Forum Penyelamat PWI Sulsel akhirnya merumuskan tiga tuntutan mutlak yang ditujukan langsung ke meja pengurus PWI Pusat:
1. Lengserkan Plt Ketua: Mengetuk mosi tidak percaya secara resmi dan menuntut PWI Pusat untuk segera mendepak Zulkifli Gani Ottoh dari kursi Plt Ketua PWI Sulsel.
2. Utus Tim Independen: Mendesak PWI Pusat mengirimkan jajaran pengurus yang netral, objektif, dan bersih dari benturan kepentingan demi mengawal transisi organisasi.
3. Konferensi Tanpa Intimidasi: Mendorong pelaksanaan Konferensi PWI Sulsel yang transparan, jujur, adil, serta bersih dari intervensi kelompok tertentu.
Ancam Turunkan Massa Lebih Besar
Massa aksi menegaskan bahwa pergerakan ini bukanlah sekadar gertakan sambal. Mereka memberikan tenggat waktu yang sangat ketat bagi pengurus pusat untuk segera mengambil sikap tegas.
“Kami memberikan waktu 2×24 jam bagi PWI Pusat untuk merespons suara kami. Jika tuntutan ini diabaikan, jangan salahkan kami jika gelombang massa yang jauh lebih besar akan kembali turun ke jalan,” ancam Arfandy dalam orasi penutupnya.
Aksi damai yang berpusat di Monumen Mandala ini menjadi alarm keras bahwa arus desakan reformasi total di tubuh PWI Sulsel sudah tidak bisa dibendung lagi. Kini, mata para kuli tinta di Sulawesi Selatan tertuju ke Jakarta, menanti respons konkret dari PWI Pusat demi menyelamatkan marwah organisasi mereka. (*)

