Catatan Alif we Onggang
Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) telah memasuki gelaran ke-26 dalam rentang lebih dari tiga dekade. Ajang tahunan para saudagar ini pertama kali dihelat pada 1993 di Balai Manunggal Makassar dan dibuka oleh Jenderal M. Jusuf, mantan Panglima TNI.
Dalam arahannya, Jusuf mendorong para saudagar Bugis Makassar untuk berkontribusi lebih luas bagi pembangunan bangsa dan daerah.
Namun, perhelatan tersebut sempat menyedot perhatian publik ketika ia menyinggung soal naskah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Pernyataan itu menjadi salah satu anekdot politik paling menarik dalam sejarah awal PSBM.
Sejumlah laporan media saat itu menyebutkan Jusuf mengetahui bahkan pernah memegang salah satu naskah terkait Supersemar, meski ia tidak membuka seluruh detailnya kepada publik. Pernyataan tersebut sempat menimbulkan kehebohan, sebelum kemudian diklarifikasi. Jusuf sendiri hanya menyarankan agar publik membaca memoarnya untuk mengetahui lebih jauh. Namun hingga tokoh ini wafat, memoar tersebut tak pernah terbit, dan misteri naskah asli Supersemar itu dibawa rahasianya sampai ke liang lahat.
Dari momentum itulah, gong pertama PSBM ditabuh. Gaungnya terus berlanjut hingga kini. Gagasan awal dan para penggagas
PSBM lahir dari kolaborasi tiga elemen utama, yakni KKSS, Kadin serta Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Dari Jakarta, gagasan ini diinisiasi oleh Ketua Umum KKSS saat itu, Beddu Amang (1988–1999). Dari daerah, didukung oleh Gubernur Sulsel Zainal Basri Palaguna, serta Ketua Kadin Sulsel Jusuf Kalla yang kala itu didampingi oleh Aksa Mahmud dan Alwi Hamu sebagai pimpinan Kadin daerah.
Sekali waktu Ketum KKSS Beddu Amang dan Sekjen A. Pawennei mengundang Jusuf Kalla, bersama Alwi Hamu bertemu di Hotel Karya Wisata Jakarta, pada 1991. Mereka membicarakan perlunya suatu wadah yang dapat mempertemukan warga rantau yang pulang kampung untuk berlebaran seraya bersilaturahim.
Oleh KKSS telontar pertanyaan: mengapa dengan kondisi dan peluang sudah cukup terbuka luas, justru semangat kepeloporan berusaha itu dirasakan menurun? Salah satu faktor, dapat dilihat dari jumlah populasi masyarakat Sulawesi Selatan yang hijrah, justru lebih banyak yang menanam investasi di tempat usaha domisilinya. Semisal bagaimana peranan para warga perantau Bugis-Makassar menguasai jaringan perdagangan di Irian Jaya (Papua), Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, sebagian Maluku, Timor-Timur, Kuala Tungkal Jambi, Batam, dan berbagai daerah lainnya di Sumatera.
Lewat simpul itu, PSBM mengandaikan kemajuan daerah untuk mengembangkan sumber potensi yang dimilikinya. Misalkan seorang warga yang menanam investasi di daerah kelahirannya sendiri akan punya nilai penting sebagai perekat hubungan kultural, sehingga sampai keturunan generasinya tetap memiliki jalinan emosional yang tak terputus dengan negeri asal tumpah darah nenek moyang mereka. Hal ini juga berarti menciptakan hubungan budaya melalui adanya jaringan ekonomi.
Sedikitnya, inilah salah satu profit yang dapat diperoleh kedua belah pihak apabila terjadi penanaman investasi seperti di daerah. Maka di dalam upaya pemberdayaan potensi dan semangat kewirausahaan warga telah dirintis adanya forum berkala setiap tahun yaitu PSBM.
Pada setiap pertemuan PSBM, bukan saja diikuti oleh saudagar dari seluruh negeri, melainkan juga diikuti oleh saudagar Bugis-Makassar, Mandar dan Toraja dari lingkup ASEAN dan beberapa negara luar.
Melalui forum ini paling sedikit diperoleh informasi data mengenai potensi warga Sulawesi Selatan yang berkiprah di bidang usaha serta kemungkinan peluang yang dapat digali dan dikembangkan bersama di daerah domisili masing-masing khususnya di Sulawesi Selatan.
Pelaku usaha orang Sulawesi Selatan ini, salah satu cirinya ialah kebanyakan mereka sukses membangun usahanya di luar Sulawesi Selatan. Mereka telah berintegrasi dengan penghayatan Wawasan Nusantara dan Kebangsaan. Mereka dengan sungguh-sungguh tampil all out merintis dan mengembangkan usaha dari awal,yang besar kemungkinannya dimotivasi oleh budaya siri, yang artinya, masiri (malu) kalau tidak sukses dan berhasil.
Saat itu, para saudagar yang telah berhasil, tidak lantas lupa akan kampung halaman, sebagian dari mereka menanam investasi di daerahnya sebagaimana yang memiliki jenama (branding) kuat yaitu Matahari Group, Sinar Mas Group, Caraka Group, Poleko Group, Modern Group, Bukaka, Bosowa dan sebagainya.
Sejalan dengan kemajuan dan keterbukaan global itu pula, pada saatnya pula memberi peluang bagi warga KKSS untuk meraih kesempatan yang lebih baik.
Sepanjang pertemuan PSBM, harus diakui masih menyisakan hal-hal yang perlu diagendakan lebih lanjut. Pada pertemuan pertama, dijadikan sebagai wahana perkenalan. Adapun PSBM II tahun 1995 dibuka Menristek B.J.Habibie, lebih menitikberatkan pada konteks manfaat interaksi antara peserta.
Lalu PSBM III, pada 1996, Menkeu Ma’rie Muhammad membuka perhelatan yang meneruskan pembahasan dari dua pertemuan dengan cakrawala yang lebih luas yakni merupakan awal kerja sama bisnis yang konkret sekaligus awal peletakan fondasi jaringan bisnis di seluruh Nusantara.
Kemudian PSBM IV digelar pada 1997, menjalin kontak-kontak dan menjalin kemitraan usaha. Pembukaan acara ini dilakukan oleh Menperindag Tungki Aribowo.
Pertemuan PSBM V pada 1998 batal diselenggarakan, lantaran spektrum politik yang tidak stabil dan terpaksa ditunda untuk waktu yang tidak ditentukan. Rezim Orde Baru karam dan konstelasi politik nasional berubah drastis.
Dari keempat PSBM, dievaluasi bahwa peranan para saudagar memang belum patut dibanggakan lantaran kemampuan manajerialnya belum memuaskan. Tidak dapat dielakkan bahwa untuk menjadi pesaing di pasar bebas maka jaringan bisnis, baik di antara sesama saudagar maupun pihak lain, merupakan basis utama yang perlu mendapat sentuhan. Sebetulnya tidak terbatas pada pasar global, namun juga untuk memasuki pasar domestik, kemitraan atau jaringan bisnis adalah prakondisi yang penting.
