Perjalanan Tri-Lintas (6) : Keberanian Para Perempuan Penerima Kusala

Zainal
Zainal 205 Pembaca
8 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh : Musdah Mulia

Dari namanya, International Woman of Courage Award, kriteria utama penelitian adalah keberanian memperjuangkan hak asasi manusia meski tantangannya sangat berat. Para perempuan penerima award itu telah berjuang sepenuh hati, bahkan tanpa memikirkan keselamatan jiwanya. Mereka menghadapi tantangan, baik berupa budaya patriarkal yang sangat kuat, tantangan struktural yang masih feodalistik, serta resistensi tokoh agama dan kelompok Islamis yang masih anti terhadap nilai-nilai demokrasi dan HAM karena memandang keduanya adalah produk Barat yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Tidak mudah bagi para perempuan tersebut mengkampanyekan nilai-nilai demokrasi dan HAM, khususnya hak-hak perempuan. Namun, mereka juga bukan orang yang mudah menyerah dan faktanya kegigihan dan keuletan mereka berhasil, meski tidak seluruhnya. Mereka berhasil melepaskan sebagian perempuan dari kungkungan budaya patriarki sehingga secara pelan tapi pasti, perempuan mulai menyadari hak-hak asasinya sebagai manusia dan sebagai warga negara penuh yang harus dilindungi negara. Perempuan mulai berani tampil di ruang publik menyuarakan kepentingan mereka dan masyarakat luas.

Masalahnya, kebanyakan umat Islam masih memandang HAM bertentangan dengan ajaran Islam, padahal penegakan HAM merupakan pilar utama dari penegakan demokrasi dan inti demokrasi telah diperkenalkan oleh Rasulullah SAW pada abad ke-7 Masehi dengan konsep Negara Madinah yang selanjutnya dikembangkan oleh para Khulafa Rasyidin.
Tidak mudah bagi para perempuan Islam untuk menegakkan nilai-nilai HAM karena para pemuka Islam cenderung mengabaikan penegakan HAM terutama hak asasi perempuan, bahkan tidak sedikit menganggap perempuan tidak memiliki hak apa pun. Masih ada masyarakat yang menganggap perempuan hanyalah objek belaka atau sekadar milik keluarga atau milik dari para lelaki. Tidak heran jika perempuan dianggap sekadar konco wingking, hanya pantas berada di area kasur, sumur dan dapur. Pandangan jahiliyah ini harus dihapuskan karena bukan hanya menggerus kemanusiaan perempuan, melainkan juga merugikan bangsa, merugikan negara, juga menodai kemuliaan Islam itu sendiri. Bahkan, mencabik bangunan peradaban manusia.

Baca juga :  Jadi MC di Pernikahan Fani dan Kiki, Caleg DPRD Dapil V Mamarita, Nurunnisa Ucapkan Selamat Berbahagia

Amat mengerikan!

Sebelum acara penerimaan award, kami semua dikumpulkan dalam sebuah forum round table discussion, di sinilah kami saling mengenal satu sama lain secara lebih intens. Kami semua diminta menjelaskan aktivitas terkait upaya penegakan demokrasi, penegakan HAM, terutama hak asasi perempuan, hambatan dan tantangan serta strategi yang kami tempuh, serta harapan dan saran kepada panitia penyelenggara, sekaligus juga masukan untuk pemerintah A.S. Di saat itulah panitia membagikan kepada kami sebuah file berisi identitas penerima award lengkap dengan aktivitas mereka selama ini. Bukan sekedar CV, tetapi lebih mirip kisah perjuangan yang ditulis secara obyektif tanpa melibatkan subyek yang ditulis. Rupanya panitia telah bekerja keras mengumpulkan semua jejak rekam kami selama ini sehingga pertemuan tersebut hanyalah mengkonfirmasi data yang sudah terkumpul. Kami saling berpandangan membaca file tersebut, sungguh patut diapresiasi kerja penyelenggara award ini.

Pertemuan ini berlangsung lebih lama dari waktu yang dijadualkan, lebih dari empat jam. Setiap penerima award punya cerita unik yang berbeda dari lainnya, kami menyimak pengalaman satu sama lain dengan penuh rasa empati, ada bagian yang mendebarkan, bahkan muncul ketegangan dan ketakutan luar biasa mendengar ancaman pembunuhan, tetapi juga ada bagian yang kocak dan lucu sehingga mengundang tawa kami semua, dan pada bagian cerita sedihnya tak ada komando, kami pun segera larut dalam kesedihan sampai menitikkan air mata.

Para perempuan yang mendapatkan penghargaan ini memiliki keberanian luar biasa, bahkan berani menerjang berbagai rintangan dan tantangan demi penegakan hak-hak asasi manusia, khususnya hak asasi perempuan dan anak semata demi kepentingan kemanusiaan. Namun, oleh masyarakatnya mereka dianggap sebagai para perempuan yang melanggar ajaran agama, dan tidak sedikit dari mereka dikafirkan dan dianggap murtad dari agamanya sehingga beberapa dari mereka dihalalkan darahnya atau diancam untuk dibunuh. Sundus Abbas asal Irak misalnya, sampai mengalami beberapa kali percobaan pembunuhan oleh kelompok fundamentalis Islam karena dianggap mata-mata Barat yang akan merusak akidah umat Islam. Demikian juga dengan Aziza Siddiqui dari Afghanistan dan Susana Trimarco de Veron dari Argentina, keduanya dicurigai sebagai provokator, perempuan pemberontak yang berbahaya karena menentang pemerintah yang represif dan diktator.

Baca juga :  Munafri Arifuddin: PSMTI Jadi Mitra Strategis Pemerintah dalam Program Sosial Di Kota Makassar

Lain lagi cerita Ruth Halperin-Kaddari dari Israel. Dia berwarganegara Israel tapi sangat peduli terhadap penderitaan rakyat Palestina, khususnya perempuan dan anak-anak. Dia lalu bekerja menghimpun bantuan kemanusiaan serta membela secara masif para perempuan di Palestina yang dianggap musuh bebuyutan Israel. Dia dicurigai membela kepentingan musuh, padahal sejatinya dia membela kemanusiaan. Ruth lantang berbicara bahwa meskipun Palestina itu musuh bebuyutan Israel, namun hak asasi manusia penduduknya jangan dirampas, terutama kaum perempuan dan anak-anak. Baginya, siapa pun, termasuk mereka yang dipandang sebagai musuh, tidak boleh dirampas hak asasinya, mereka tidak boleh mengalami kekerasan dan penderitaan untuk alasan apa pun, termasuk alasan perang dan konflik. Saya pribadi amat mengagumi sosok Ruth ini. Tidak semua orang mampu bersikap empati dan solidaritas kepada mereka yang dianggap musuh.

Hal serupa dilakukan oleh Jennifer Louise Williams dari Zimbabwe dan Ilze Jaunalksne dari Latvia, mereka adalah dua perempuan yang sangat gigih menegakkan prinsip demokrasi melalui upaya penegakan hak asasi perempuan. Mereka terang-terangan melawan pemerintahnya yang korup dan tiranik. Begitu juga yang dilakukan penerima award dari Maladewa bernama Mariya Ahmed Didi. Dia adalah perempuan yang sangat berani melawan rezim otoriter di negaranya, dia tidak pernah merasa gentar di bawah todongan senjata. Menurutnya, rakyat Maladewa, khususnya para perempuan berhak mendapatkan kebebasan dari kungkungan pemuka agama dan pemerintah yang otoritarian. Perempuan jangan disuruh diam, tetapi pemerintahlah yang harus memenuhi hak-hak asasi warganya, terutama kaum perempuan. Dengan ungkapan lain, pemerintah harus berubah menjadi demokratis.

Cerita dari penerima penghargaan asal Arab lebih mengenaskan lagi. Dia adalah Samia al-Amoudi, seorang ilmuwan berprofesi sebagai dokter ahli kanker sekaligus juga Wakil Rektor Universitas King Abdul Aziz di Saudi Arabia. Samia bekerja mengedukasi perempuan Arab sehingga terhindar dari penyakit kanker payudara yang merupakan pembunuh nomor satu bagi perempuan muda di Arab Saudi. Untuk itulah dia sangat aktif memberikan penyuluhan dan mengedukasi masyarakat, terutama perempuan tentang bagaimana mencegah dan mengatasi penyakit kanker, khususnya kanker payudara. Dalam berbagai penyuluhan dan pembelajaran yang dia sampaikan di masyarakat, baik melalui televisi, radio dan media elektronik lainnya, dia terpaksa harus menunjukkan gambar payudara dan organ perempuan lainnya yang terkait dan beresiko terkena kanker.

Baca juga :  Kodim 1423 Soppeng Gelar Patroli Gabungan

Namun, aktivitasnya itu disalahpahami oleh ulama konservatif dan kelompok fundamentalis Islam. Dia dituduh melegalkan aksi pencabulan dan pornografi sehingga ditangkap polisi. Parahnya lagi, suaminya pun marah kepadanya lalu menceraikannya. Akan tetapi, anak-anak Samia memihak dia, termasuk anak tirinya gigih membelanya. Menurut Samia, kurangnya literasi kesehatan terkait organ-organ payudara menyebabkan penyakit ini mengganas di masyarakat, padahal penyakit itu bisa dicegah dengan perawatan organ-organ tubuh secara benar. Meski ditangkap polisi dan diceraikan suami serta dikucilkan dari masyarakatnya, Samia bergeming dan terus melanjutkan perjuangannya meski mendapatkan tantangan yang betubi-tubi baik dari keluarga maupun masyarakatnya. (Bersambung)

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!