Ia meyakini bahwa dalam sebuah kompetisi sehat, tidak ada istilah kekalahan murni, melainkan hanya kesuksesan yang tertunda, sehingga ikatan persaudaraan tidak boleh retak.
“Dalam pandangan saya tidak ada yang kalah; yang ada hanyalah mereka yang menang dan mereka yang keberhasilannya masih tertunda,” tegasnya.
Prof. Farida juga mengingatkan bahwa hakikat seorang pemimpin adalah menjadi pelayan bagi publik, bukan sosok yang haus akan sanjungan semata, melainkan pribadi yang tahan banting terhadap kritik.
“Seorang pemimpin tidak boleh anti-kritik atau sekadar ingin dipuji, sebab tugas utamanya adalah melayani dan mengeksekusi program lembaga secara nyata,” tambahnya.
Diselimuti suasana emosional, Dr. Andi Atssam mengungkapkan rasa syukur mendalam atas kepercayaan besar ini, sembari menekankan bahwa posisi dekan adalah beban moral yang harus dipertanggungjawabkan.
“Bagi saya, jabatan ini bukanlah sekadar posisi, melainkan amanah besar yang wajib saya jalankan dengan integritas penuh,” ucapnya rendah hati.
Ia berjanji akan menakhodai FIKK tanpa membeda-bedakan kelompok atau faksi, dengan mengutamakan azas keadilan dan inklusivitas demi merangkul semua pihak untuk kemajuan bersama.
Momen pelantikan ini diharapkan menjadi batu pijakan untuk mempererat sinergi, membawa FIKK UNM melesat menjadi fakultas yang kompetitif, unggul, dan disegani, baik di kancah nasional maupun global. (*Rz)
