Piala Dunia: Merayakan Perbedaan dalam Satu Permainan

Ramzy
Ramzy 135 Pembaca
5 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh: Oswar Mungkasa (Penggemar fanatik Brazil)

SAYA pendukung Brasil sejak kecil. Sejak pertama kali mengenal Piala Dunia, tim yang saya dukung selalu Brasil. Dari generasi Romário dan Bebeto, kemudian Ronaldo dan Rivaldo, hingga Neymar dan generasi sekarang. Ada masa ketika Brasil menjadi tim yang ditakuti lawan. Ada pula masa ketika mereka tersingkir lebih cepat dari yang diharapkan. Namun satu hal tidak pernah berubah: saya tetap mendukung Brasil.

Hari ini Piala Dunia kembali dimulai. Seperti biasa, berbagai ramalan bermunculan. Analisis statistik, simulasi komputer, dan berbagai model perhitungan mencoba memperkirakan siapa yang akan menjadi juara. Ada yang menjagokan Prancis, ada yang memilih Spanyol, ada pula yang meyakini Argentina akan kembali berjaya.

Namun ketika seseorang bertanya negara mana yang saya harapkan menjadi juara, jawaban saya tetap sama seperti puluhan tahun lalu: Brasil.

Padahal saya tahu peluang mereka belum tentu paling besar. Berbagai model statistik bahkan mungkin menempatkan negara lain di posisi yang lebih unggul. Tetapi dukungan terhadap sebuah tim sering kali tidak lahir dari perhitungan peluang. Tetapi tumbuh dari kenangan, pengalaman, dan keterikatan yang terbentuk dalam waktu yang panjang.

Karenanya, ketika berbagai model statistik menjagokan negara lain, bagi seorang pendukung Brasil, Brasil tetap Brasil.

Berbeda Dukungan, Satu Panggung

Mungkin di situlah salah satu keistimewaan Piala Dunia. Miliaran orang di berbagai belahan dunia menyaksikan pertandingan yang sama, tetapi tidak menginginkan hasil yang sama. Pendukung Brasil berharap Brasil menang. Pendukung Argentina berharap Argentina menang. Pendukung Jerman berharap Jerman menang. Begitu pula pendukung negara-negara lainnya.

Semua datang dengan harapan yang berbeda. Namun perbedaan itu tidak membuat Piala Dunia kehilangan maknanya. Justru sebaliknya. Perbedaan itulah yang membuatnya hidup.

Baca juga :  Desa Tanpa Solusi, Pemuda Bontonyeleng Merespon Agustus Tanpa Dana Desa

Bayangkan jika semua orang mendukung tim yang sama. Tidak akan ada ketegangan, tidak ada perdebatan, tidak ada kegembiraan, tidak ada kegalauan ketika tim unggulan tersandung atau keterkejutan ketika tim yang tidak diperhitungkan membuat kejutan. Piala Dunia menjadi menarik karena setiap orang membawa kesetiaan, harapan, dan cerita yang berbeda.

Di satu sisi, kita bersaing melalui tim yang kita dukung. Namun di sisi lain, kita tetap berbagi pengalaman yang sama sebagai penikmat sepak bola. Mungkin ada pelajaran sederhana di sini. Persatuan tidak selalu lahir dari kesamaan. Kadang persatuan justru lahir dari kesediaan untuk berbagi ruang bersama di tengah perbedaan.

Ketika Perbedaan Menjadi Perayaan

Dalam keseharian, perbedaan sering kali dipandang sebagai sumber pertentangan. Perbedaan pilihan, pandangan, atau rujukan kerap dianggap sebagai sesuatu yang harus diselesaikan atau bahkan dihilangkan. Piala Dunia menunjukkan hal yang berbeda.

Di sinilah, perbedaan tidak dihapus. Perbedaan justru dirayakan. Kita dapat duduk bersama sambil mendukung tim yang berbeda. Kita dapat berdebat tentang siapa yang paling layak menjadi juara. Kita dapat saling menggoda ketika tim lawan kalah dan saling memberi selamat ketika tim lawan menang. Semua berlangsung dalam suasana yang tetap menyatukan.

Tidak ada kewajiban untuk memiliki pilihan yang sama agar dapat menikmati pesta yang sama.

Barangkali karena itulah Piala Dunia selalu memiliki daya tarik yang melampaui sepak bola itu sendiri. Keberadaannya menjadi ruang tempat manusia belajar bahwa kebersamaan tidak harus dibangun di atas keseragaman.

Brasil Tetap Brasil

Pada akhirnya, Piala Dunia memang akan melahirkan satu juara.
Mungkin juaranya sesuai perkiraan. Mungkin juga tidak. Statistik bisa benar, bisa pula keliru. Simulasi komputer dapat berubah dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Namun dukungan para pendukung biasanya tidak berubah secepat itu.

Baca juga :  Labfor Polri Masih Terus Periksa HP dan CCTV Kasus Brigadir J Secara Scientific Crime Investigation

Ketika turnamen ini berakhir, saya mungkin akan bergembira jika Brasil menjadi juara. Saya juga mungkin akan kecewa jika mereka tersingkir. Tetapi apa pun hasilnya, ketika Piala Dunia berikutnya datang, besar kemungkinan saya akan kembali mendukung tim yang sama.

Bukan karena peluangnya paling besar. Bukan karena statistik menjaminnya. Melainkan karena sejak dulu saya memilihnya. Karena itu, bagi saya, Brasil tetap Brasil. (*)

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!