PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR — Langkah panitia menetapkan Graha Pena Fajar di Jalan Urip Sumohardjo, Makassar, sebagai arena Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan pada 2 Juni 2026 nanti, langsung memantik reaksi keras. Sejumlah jurnalis yang berhimpun dalam Forum Penyelamat PWI Sulsel melayangkan kritik tajam atas keputusan tersebut.
Sebelumnya, Muhammad Arafah selaku Juru Bicara Konferprov PWI Sulsel, menjelaskan bahwa pemilihan Graha Pena Fajar didasari atas analisis matang mengenai kenyamanan, sistem keamanan, daya tampung aula, hingga ketersediaan lahan parkir yang luas.
Pihak panitia juga mengklaim telah melakukan survei ke beberapa opsi tempat yang disodorkan Pemerintah Provinsi Sulsel, seperti Aula Jusuf Kalla dan Gedung Mulo. Namun, opsi-opsi tersebut dianggap kurang mumpuni untuk menampung lonjakan sekitar 400 peserta dan peninjau.
Kendati alasan teknis sudah dibeberkan, kebijakan panitia ini justru memicu riak konflik baru yang memanaskan suhu internal organisasi.
Ketua Forum Penyelamat PWI Sulsel, Arfandi Palallo, menggarisbawahi bahwa penunjukan Graha Pena Fajar sangat berisiko menggiring opini publik dan melahirkan prasangka ketidaknetralan dalam bursa pemilihan Ketua PWI Sulsel yang baru.
“Persoalannya bukan cuma megahnya gedung atau mewahnya fasilitas, melainkan bagaimana menjaga citra independensi dan asas keadilan bagi setiap peserta. Arena konferensi wajib hukumnya steril dari embel-embel kepentingan kelompok tertentu,” cetus Arfandi, Sabtu (30/5/2026).

