PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Guru Besar Spesialis Penyakit Mata Universitas Hasanuddin Makassar, Prof.dr.Budu, Ph.D. Sp.M.(K), M.MedEd. menyebutkan, Idul Adha atau Idul Kurban adalah hari raya yang ditunggu tunggu setiap tahun dan diperingati dengan suka cita oleh segenap umat Islam di seluruh pelosok dunia sembari mengagungkan kebesaran Aallah swt dengan kalimat-kalimat tayyibah ; takbir, tasbih, tahmid dan tahlil yang merupakan pujian dan penghambaan tulus ummat ini kepada Rab-nya.
“Suasana khidmat dan rasa suka cita tidak pernah pupus dan luntur sebab memberikan makna yang dalam bagi kita semua dan bahkan memiliki makna dan misi kemanusiaan yang bersifat universal,” ujar Prof.Budu dalam khutbah Salat Idul Adha yang disampaikan pada di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Jl. Perintis Kemerdekaan, KM 10, Rabu (27/5/2026).
Anggota Majelis Pendidikan Penelitian dan Pengembangan (Diklitbang) Pengurus Pusat Muhammadiyah tersebut menyebutkan, Idul Adha selalu dirindukan dan memberikan kesan mendalam sebab dirangkaikan dengan penyembelihan hewan-hewan kurban sebagai bukti kedekatan dan rasa syukur kita kepada Allah swt.
Amaliah ketaatan ini juga menandai keinginan untuk berbagi rasa dari daging hewan yang mungkin sebagian di antara kita dalam kesehariannya tidak selalu bisa memperoleh dan menikmatinya.
“Tidaklah ada hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah swt dari hari-hari tersebut yaitu 10 hari pertama bulan Dzuljhijjah’. Karena pada waktu tersebut berkumpul amalan-amalan yang sangat utama, yaitu salat, puasa, qurban dan haji,” seru Maha Guru Fakultas Kedokteran Unhas tersebut sembari mengutip hadis HR Buhari.
Perayaan Idul Adha, sebut Prof. Budu, adalah suatu sejarah tentang ketegaran jiwa dan kepatuhan seorang Ismail muda saat dirinya dijadikan kurban untuk disembelih oleh ayahnya Ibrahim. Ismail adalah seorang anak mahal `istilah saat ini`yang akan terus dikenang, begitu lama didambakan kehadirannya oleh keluarga Ibrahim. Ia tumbuh dari bayi hingga menjadi anak yang lucu di tempat pengasingan nan jauh bersama ibundanya Sitti Hajar.
Dikisahkan, saat ia sudah tumbuh menjadi anak belia remaja, kala ia bisa membantu pekerjaan ayahnya, sudah bisa menemani ibundanya di kala sendirian, tiba-tiba datang perintah Allah swt dalam mimpi Ibrahim untuk menyembelih putra semata wayangnya itu. Nabi Ibrahim sangat bingung dan gelisah dan merenunginya beberapa kali, dan memohon petunjuk yang benar kepada Allah swt.
“Malam kedua mimpi yang sama datang kembali, begitu pun dengan malam ketiga, saat itulah Ibrahim sangat yakin bahwa mimpi itu benar-benar perintah yang nyata dan harus dilaksanakan,” ujar Ketua Pengurus Pusat Persatuan Dokter Spesialis Mata Seluruh Indonesia itu kemudian mengutip ayat Alquran yang artinya, “Makaُketikaُanakُituُsampaiُ(padaُumur)ُ sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahaiُ anakku!ُ Sesungguhnyaُ akuُbermimpiُbahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!”ُ
Nabi Ismail yang masih belia itu menjawab, yang artinya “Diaُ (Ismail)ُ menjawab,ُ ‘Wahaiُ ayahku!ُ Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Aallah engkau akan mendapatiku termasuk orangُyangُsabar.”ُ
Dengan hati yang sedih dan raut wajah yang dipenuhi linangan air mata, keduanya harus sama-sama ikhlas dan rida demi memenuhi perintah Tuhannya, bahkan Nabi Ibrahim harus mengurbankan anaknya sendiri. Disembelih di hadapannya dan dilakukan dengan tangannya sendiri. Nabi Ibrahim membawa putranya ke sebuah tempat dan membaringkannya di atas pelipisnya.
Dikisahkan bahwa saat-saat yang menyedihkan ini, Nabi Ismail berpesan dan meminta untuk diikat dengan kencang, pisaunya dipertajam dan gerakan sembelihannya dipercepat. Ia pun meminta salam kepada ibunya tercinta dan meminta agar wajahnya ditelungkupkan agar tak terlihat oleh ayahnya, kuatir menjadi cerita sedih untuk ayah dan ibunya.
Nabi Ibrahim melaksanakan semua permohonan dan permintaan putranya itu dan saat pisau mulai bergerak, saat itu pula Allah swt berfirman: yang artinya,ُ “Laluُ Kamiُ panggilُ dia,ُ ‘Wahaiُ Ibrahim!ُ Sungguh,ُ engkauُ telahُ membenarkanُ mimpiُ itu.’ُ Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang ُkemudian.”ُ(QSُAs-Saffat: 104-108).
Itulah kisah ketegaran Nabi Ismail dalam menjalankan perintah Allah swt. Dilakukannya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, sekalipun nyawa akan menjadi taruhannya. Padahal di zaman itu, adalah zaman kekuatan raja dan zaman penuh dengan ketakutan dan ketidakbebasan. Saat itu adalah jaman bayi laki-laki dibunuh dan dikubur hidup-hidup tanpa rasa belas kasih.
Ibrahim dan keluarganya hidup di Zaman Raja Namrud (Nimrod) di Mesopotamia dikenal sebagai salah satu periode paling gelap dan keras dalam sejarah peradaban manusia kala itu. Namrud, dikenal sebagai penguasa yang sangat angkuh, zalim, dan mengaku sebagai Tuhan. Ia memaksa rakyatnya menyembah berhala dan mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Siapa pun yang menentang akan dibunuh tanpa ampun. Karena rasa takut akan masa depannya, Namrud memerintahkan tentara untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir di wilayahnya.
Menurut Prof. Budu, kekejaman dan kezaliman yang nyata, dikisahkan dalam Alquran, ia memerintahkan pembakaran hidup-hidup terhadap Nabi Ibrahim as menggunakan api yang sangat besar, hingga asapnya menutupi langit seperti malam hari.
“Namrud memiliki pasukan besar dan kekayaan melimpah, yang digunakannya untuk menindas rakyat dan menantang kebenaran. Suasana ini sangat berdampak secara sosial, sehingga rakyat hidup dalam ketakutan terus-menerus. Terjadi krisis moral dan akidah yang luar biasa sebab masyarakat terdoktrinasi oleh penyembahan berhala dan kultus individu terhadap raja. Terjadi kesejangan sosial yang begitu timpang dan kekayaan terkonsentrasi pada lingkungan istana, sementara rakyat kecil tertindas,” demikian Prof.Budu pada salat Idul Adha yang dihadiri sejumlah umat Islam tersebut. (mda)
