PSMTI Gelar Upacara Penghormatan Leluhur 2026 di Glodok, Teguhkan Nilai Bakti dan Kebersamaan

Ramzy 617 Pembaca
3 Menit baca

PEDOMANRAKYAT, JAKARTA - Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) melalui Bidang Marga-Marga bersama pengurus Provinsi DKI Jakarta resmi menyelenggarakan Upacara Penghormatan Leluhur 2026 di Sun City Restaurant, Glodok, Jakarta Barat, Minggu (12/04/2026).

Kegiatan ini dihadiri berbagai tokoh penting, termasuk perwakilan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia, Ketua Umum PSMTI Wilianto Tanta, serta jajaran dewan pertimbangan, dewan penyantun, dewan kehormatan, dan pengurus PSMTI dari berbagai daerah. Tercatat, lebih dari 100 marga dan perkumpulan turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, mencerminkan kuatnya semangat kebersamaan dalam komunitas.

Dalam rangkaian acara, dilakukan pembacaan kitab leluhur dalam dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia oleh Budianto Kwok dan Bahasa Mandarin oleh Hendra Yan Chandra. Penggunaan dua bahasa ini bertujuan agar nilai-nilai penghormatan dan pesan tradisi dapat dipahami oleh seluruh generasi yang hadir.

Penyelenggaraan kegiatan ini merupakan hasil sinergi lintas kepengurusan PSMTI, termasuk Departemen Marga-Marga di bawah koordinasi Wakil Ketua Umum Bidang Koordinasi Marga-Marga, Untung Chandra.

Ketua Umum PSMTI, Wilianto Tanta, dalam sambutannya menegaskan bahwa terdapat tiga pilar utama dalam tradisi penghormatan leluhur. Pilar pertama adalah rasa hormat (Zun Zhong), sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan perjuangan para leluhur.

“Kita berdiri di sini untuk menghormati jasa, perjuangan, dan pengorbanan para leluhur. Tanpa mereka, kita tidak akan berada di titik sekarang. Rasa hormat inilah yang menjaga martabat keluarga dan marga tetap terjaga,” ujarnya.

Pilar kedua adalah bakti (Xiao), yang menjadi inti dari nilai kemanusiaan. Menurutnya, bakti kepada leluhur tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, melainkan diwujudkan melalui menjaga nama baik keluarga, merawat pusara, serta mendoakan mereka.

Adapun pilar ketiga adalah keluarga. Wilianto menyebut tradisi penghormatan leluhur sebagai perekat yang mempertemukan kembali anggota keluarga di tengah kesibukan kehidupan modern.

“Penghormatan leluhur adalah magnet yang memanggil kita untuk pulang. Di sanalah hubungan yang renggang kembali terjalin, dan yang dekat menjadi semakin erat,” tambahnya.

Ia juga menekankan bahwa tradisi ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menjadi momentum untuk membangun masa depan yang lebih harmonis.

“Wariskan nilai rasa hormat dan bakti ini kepada generasi penerus, agar mereka tumbuh dengan karakter kuat serta bangga akan identitasnya,” tutup Wilianto. ( Ardhy M Basir )

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version